Wednesday, 17 December 2014

Bukan Dongeng

: I

Kamar saya sepi

Ada yang terenggut

Oleh malam

Bukan gelapnya

Tapi pagi yang dinanti

Dan siang yang dijelang

Tidak hanya kamu

Hati saya (juga) patah


Sekre KaDe, 11.48
Kamis, 18.12.14



Wednesday, 12 November 2014

Rindu


Pagi tadi, sembari menuju kampus, kepala saya merangkai sesuatu yang rencananya hendak ditulis di sini. Namun, entah. Hingga detik ini saya berusaha mengingatnya tetapi belum atau tidak berhasil.

Barangkali, saya memang harus menulis tentang sesuatu yang terus berlarian dalam benak beberapa waktu terakhir.


Laut.

Ya. Laut.

Saya merindukan laut.

Barangkali, rindu memang tidak hanya milik segala yang tercintai.

Namun, juga untuk semua yang berarti.

Laut.

Laut.

Demi laut. Agaknya saya harus meminta maaf untuk sesuatu yang sudah menari bersama. Namun, justru hilang begitu mudahnya.




November kedua belas, Bapak, dan laut yang tengah ter-rindukan.

Selamat malam.

N.B. Jadi, laut, kapan baiknya kita berjumpa?



Saturday, 4 October 2014

Atau; Oktober pada Dua Ribu Empat Belas


Oktober dua ribu empat belas

Di antara kita tidak ada yang tengah berulang tahun

Namun, seperti biasa

Tetap menjadi lebih tua tiap detik

Namun, senantiasa

Tetap menjadi kekanak-kanak tiap waktu

Waktu bergerak tapi, entah aku atau kamu

Tidak tahu

Tidak mau tahu

Tidak ingin tahu

Atau belum

Jadi, kuharap kamu pulang

Aku pulang

Kita pulang

Mari saling membaca

Lalu berbicara

Mengenai tempat kita kembali bertemu

Apakah ini benar rumah kita

Atau bukan rumah kita

Atau rumahmu saja

Atau hanya rumahku

Atau semuanya hanya ilusiku

Tentang kamu aku kita

Pulang dan rumah

Pada suatu oktober dua ribu empat belas



|Mungkin Rumah|
|05.10.14|
|13.33|



Monday, 18 August 2014

Melarung Mei




Sudah Agustus pertengahan akhir. Padahal, sebenarnya saya sudah menulis judul ini sejak Juni paling awal.

Sunday, 15 June 2014

Cerita Tanpa Usai





Buat Bapak, yang senantiasa mengajarkan saya bagaimana membaca mata angin.

utara itu pada 0 derajat

Bapak ingat? Apa yang selalu saya tunggu-tunggu saat siang menjelang sore hari? Sewaktu masih di taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar saya selalu tidak sabar menunggu Bapak pulang mengajar. Sebab Bapak tidak pernah lupa membelikan buku mewarnai dan majalah anak-anak edisi terbaru.

timur laut, 45 derajat antara utara dan timur

Bapak ingat? Bapak tidak pernah memaksa saya untuk menelan rupa-rupa daging yang tidak pernah bisa saya lakukan. Namun, walau saya menangis, Bapak lebih memilih untuk membuat saya tetap tinggal di rumah daripada berangkat sekolah tanpa sarapan.

Sunday, 8 June 2014

Jatuh Cinta


Pada puisi ini saya pernah jatuh cinta.

Tapi, rasanya sudah lama sekali.



Biar Kuceritakan Pada Senja (Ary Dhamayanti)

Senja
Aku menemuimu lagi selepas hari
Untuk mengadu
Sama seperti kemarin

Biar aku menghadap ke timur saja
Agar mentari tak bisa
Mengintip semu merah di pipiku

Ah senja,
Hari ini aku jatuh cinta



Membacanya membuat saya senantiasa percaya,

bahwa jatuh cinta bahkan seringkali jauh lebih sederhana.




P.S. Saya 'menemukan' puisi ini pertama kali di 
blog.gagasmedia.net beberapa tahun lalu.






Thursday, 15 May 2014

Mei di Jawa Tengah, Terimakasih



PEKSIMIDA Jateng di UMP, 10 Mei 2014

Mei bergerak cepat. Rasanya April masih berkutat di hari-hari tuanya saat saya tidak sengaja membaca pengumuman tentang seleksi seni tingkat Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bagi yang lolos seleksi tersebut nantinya berhak mewakili kampus ke PEKSIMIDA Jawa Tengah 2014. Pekan Seni Mahasiswa adalah agenda yang rutin digelar setiap dua tahun sekali. Untuk daerah Jawa Tengah tahun ini bakal digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Sunday, 27 April 2014

Hujan Harus Usai


Sekali lagi kita diterbangkan kemari

Saat rinai gugur kembali

Diuraikannya angin paling sepi

Untuk segala yang belum tergenapi


Kucari dimana surga

Kelam memulas mega

Apakah kita harus selalu berjumpa

Kala sendu merupa senja


Dan apalagi yang dapat dijelaskan

Oleh diam pada sebuah pertemuan

Tapi barangkali kita bisa merahasiakan

Sejenak tentang cara melupakan


Sudah sepantasnya kita mengerti

Mengapa takdir memesankan secangkir kopi

Yang banyak dinanti

Pada dingin di penghujung hari


Aku tahu sejak kali pertama

Hujan harus usai segera

Lantas mari lekas bicara

Mengenai hujan kesekian yang menyemai luka




Bintang Jatuh


Seingat kita siang itu terang

Lautan berkarang

Rumah punya ruang

Kala petang matahari pulang


Berbicara mengenai lalu

Dadu tentu bersiku

Lagu sepantasnya merdu

Mengapa masih ditemui ragu


Pada suatu hari ketika fajar terlambat

Masa menyerupa kenangan tentang hujan paling lebat

Di pucuk gelap semua berdiam selagi sempat

Kota kita menua tanpa geliat


Merapal sembah sampai langit ketujuh

Barangkali surga bisa runtuh

Sesederhana arakan awan jenuh

Tapi kemarin bintang sudah pernah jatuh



SL210414




Sunday, 13 April 2014

Hujan, Kenangan, dan Secangkir Kopi





Hujan

Bau basah menjamah ramah. Hujan turun lagi untuk kesekian kali di penghujan kali ini. Sudah seberapa jauh kita melangkah? Membuat kecipak genangan air dalam setapak masing-masing?
Aku telah melangkah sejauh kepura-puraan mampu setia dalam bayang hitam yang mengekor. Namun, bukankah tidak penting seberapa jauh kaki melangkah. Sebab hati pasti akan dipulangkan oleh sebentuk kenangan yang biasanya disampaikan lewat hujan yang menenangkan.


Kenangan

Seorang kawan bertanya, “Kenapa harus menanti hujan untuk membicarakan kenangan?”
Kau tahu? Aku tidak menunggu hujan mendramatisir keadaan.
Yang lalu memang selalu rumit dijabarkan bila dipaksa menyejajari yang terus melaju. Maka mari berhenti sejenak. Menarik nafas dalam-dalam kala air-air langit menderai. Mendamaikan kemarin.


Secangkir Kopi

Masihkah ingat dengan secangkir kopi yang kita pesan dulu? Kita bukannya lupa untuk menandaskannya. Siapa pula yang ingin melanjutkan separuh kopi yang sudah mendingin?


Hujan, Kenangan dan Secangkir Kopi

Mari berdoa. Secangkir kopi kita kali ini tidak mendingin sebelum habis di sesap. Agar kenangan esok tentang secangkir kopi hangat yang nikmat. Mumpung hujan masih turun –membawa serta malaikat-malaikat surga, dan doa-doa dijabah.


Solo, 20 November 2013




Ilusi




pagi bermula lagi

sunyi serupa kemarin

langit ditelan kabut

sendiri sendirian

adakah yang kau katakan

sementara aku menyesap sepi

mungkin angin membawanya lalu

berlarian dengan gulungan ombak

serta busa-busa yang keburu lenyap

apakah kau mengucap tanya

mengenai aroma sendu

dari secangkir kopi yang diseduh matahari

atau semua keliru

sebab pagi memang tak pernah benar-benar kembali

hari berhenti

ketika kota kita mati


17 Maret 2014




Saturday, 12 April 2014

Seperti Seharusnya



Dari balik jendela kamar yang separuh terbuka, aku dapat menyaksikan hujan mulai berjatuhan. Bau tanah basah mulai menjamah. Angin berhembus kencang tetapi aku belum ingin beranjak dari tempatku duduk yang persis menghadap jendela. Untuk kesekian kali layar ponselku kembali berkedip. Aku tahu itu bukan tanda ada telepon atau pesan masuk.

*

Seperti yang kuduga, semua berlalu begitu cepat hingga segalanya menjadi terasa tiba-tiba. Ujian kelulusan sekolah menengah atas, tes masuk perguruan tinggi, ospek, perkuliahan, ujian semester, dan tiba-tiba saja aku sudah kehilangan jejakmu. Padahal kau tidak berjalan di belakangku pula di depanku. Kau berjalan di sampingku, seharusnya.

Wednesday, 9 April 2014

Kita




kita harus pergi

sejauh angin menerbangkan mimpi yang dilupakan

kemanapun ombak menarik buih dari lautnya

menjauhi langit yang nyaris tua


sebaiknya kita pergi

semoga bulan purnama

udara menyeruak dari terang

hujan pada kemarau panjang


kita pergi

melayur angan mengenai nanti

melupakan kemarin

mengeja kita untuk yang terakhir



di antara hujan, 8 April 2014





Monday, 31 March 2014

Let It Flow (?)


Pernah menyesal?


Sampai detik ini, apa penyesalan terbesar dalam hidupmu?


*

Friday, 21 March 2014

Hanya Perkara Ke(biasa)an



Rabu, 19 Maret 2014 (20:17)

Sejenak saya memejamkan mata dan berharap sekejap kemudian hari Jumat pukul sebelas siang muncul di pelupuk. Mengapa Jumat pukul sebelas? Sebab waktu itu kuliah resmi berakhir untuk minggu ini. Kemudian, tanpa buang waktu lagi saya akan langsung ambil langkah menuju depan kampus. Dengan tidak sabar menunggu bus jalur Surabaya-Yogyakarta yang tentunya melaju ke arah Yogyakarta.

Akan tetapi, kenyataannya tentu saja tidak demikian. Hari ini masih Rabu malam Kamis. Seperti biasa saya masih termangu di kamar kos dengan kipas angin mini yang tidak harus membuat saya mendengar suara gaduh kaki-kaki yang menapak di lantai atas. Di hadapan saya terhampar hampir semua hal yang harus saya urus minggu ini. Revisi makalah makul Teori Sastra, bundel tebal materi makul Morfologi Bahasa Indonesia yang harus segera diringkas, melengkapi catatan makul Pendidikan Pancasila, tugas untuk bahan ujian lisan makul Bahasa Arab, dan hal-hal lain di luar urusan mahasiswa-dosen. Cukup banyak yang harus segera saya selesaikan, namun saya justru membeku. Tidak tergerak apalagi bergerak untuk menyambar. Saya hanya ingin satu; pulang.

Sunday, 9 March 2014

tapi kamu


adakah satu tempat paling sempurna

untuk menyudahi semua yang lari

dari segala yang tidak dimengerti

aku atau kita yang menyerah

mungkin aku mungkin jua kita

bagaimana bisa aku atau kita

jengah dengan embun pada daun

merah senja pada sore

bau basah pada derai pertama

aku yang tidak pernah yakin

namun apakah yang mustahil

mungkin bukan aku atau kita

tapi kamu

WK, 9 Maret 2014
20:46

Friday, 28 February 2014

Bukankah Aku


mari menjamu sore

dengan hujan deras di sebelah sana

yang mengirimkan desau risau

angin paling dingin

kesukaan kita

sementara malam diam-diam mengintip

dari balik kelabu

dan kemanakah kau akan pergi?

pulang sebelum hari telah benar petang?

tapi,

bukankah aku ini adalah rumah?


Solo, 27 Februari 2014

Friday, 14 February 2014

Perbedaan antara Durkheim dan Weber (?)

Minggu pertama kuliah, Selasa lalu, akhirnya saya ketemu salah satu dosen baru di semester dua ini. Sebetulnya dalam jadwal ada tiga mata kuliah hari itu, yaitu:

Pendidikan Pancasila
Teori Sastra
Bahasa Belanda

yang kemudian menjadi

Pendidikan Pancasila
Teori Sastra
Bahasa Belanda

Yap, yang dihadiri dosen hanya satu, yaitu mata kuliah Teori Sastra.

Mata kuliah ini diampu oleh dua dosen; yang satu sudah mengajar di semester satu dan yang satunya baru bertemu di semester ini. Untuk pertemuan pertama, keduanya hadir namun yang mengajar adalah dosen baru, dosen satunya hanya mendampingi dari kursi bagian belakang.

Di bagian awal, seperti biasa setelah membicarakan kontrak perkuliahan, buku referensi, dan teman-temannya itu, dosen mulai masuk ke materi kuliah yang diawali dengan pertanyaan apa itu sastra?

Skip, karena saya nggak mau ceramah tentang pengertian sastra. Hehe..

Singkat kata, seperti judul yang saya tulis di atas, saya "dipertemukan kembali" dengan nama-nama yang tentu saja sudah tidak asing lagi di telinga saya. Ya, Durkheim dan Weber.

Slide dengan judul Sastra dan Struktur Sosial mengantarkan saya untuk kembali mengingat dua tokoh itu. Dalam pembahasan bahasa ke dunia sosial dalam slide tersebut tertulis beberapa kalimat yang salah satunya kira-kira begini; bahasa sebagai indikator dari keberadaan realitas sosial yang terlepas dari individu (Durkheim). Saat pembahasan dosen tersebut sampai pada kalimat ini, tiba-tiba beliau bertanya, "Tau kan bedanya Durkheim sama Weber?"

Saturday, 8 February 2014

People Change



Jujur, sebenarnya saya tidak terlalu suka melihat konser. Namun, saya punya cita-cita menonton konser. Lho?

Hehe. Iya, konsernya Sheila On 7, Payung Teduh, Mocca, atau MYMP. Pokoknya yang semacam itu dengan catatan konsernya indoor. Yap, indoor karena entah sejak kapan saya jadi suka parno kalo berada di kerumunan banyak orang di tempat terbuka yang manusia-manusianya tidak terkontrol dan bisa semaunya sendiri.

Tuesday, 28 January 2014




Sunday, 26 January 2014

Mengejar Pantai #2 : Pasir, Batu, Candi, Patung, dan Perahu

Postingan kali ini untuk menggenapi postingan saya sebelumnya. Masih tentang pantai. Masih tentang Gunungkidul. Masih tentang pantai-pantai di Gunungkidul. :)

Januari tahun lalu, setelah cukup lama bermain-main di Krakal kami melanjutkan ke beberapa pantai, yaitu Indrayanti (Pulang Syawal), Watu Lawang, Ngobaran, dan Ngrenehan.



Pantai Indrayanti (Pulang Syawal)
Boneka pasir buatan Bapak ^^

Thursday, 23 January 2014

Masih


Sekali lagi kita berjumpa

Tapi Januari masih terlalu muda

Untuk kita lukai

Pula jangan lupa

Ini masih penghujan

Meski beberapa hari

Hujan tidak menyambangi

Solo.1.12.14

Tuesday, 14 January 2014

Memang Ada Masanya Saya Harus Berhenti Membaca


Saya senang atau dapat dibilang "lega" sekali saat menemukan tulisan Bernard Batubara  ini di bisikanbusuk.com. Pertama kali 'nyasar' ke web milik seorang penulis yang sudah pernah saya baca salah satu karya novelnya, saya tidak bisa langsung melewati sebuah artikel berjudul Ada Masanya Kau Harus Berhenti Membaca begitu saja. Artikel itu kemudian saya baca sampai tamat. Setelah selesai membaca, saya seolah blank, speechless, atau apalah. Intinya perasan semacam itulah yang saya rasakan untuk beberapa saat kemudian.

Monday, 13 January 2014

j a n u a r i


antara aku dan air

antara air dan aku

kita sama kami

kami sama kita

kita sama sama

kami sama sama

sama sama kita

sama sama kami

sama kita sama

sama kami sama

siap tidak siap

siap siap tidak

tidak siap siap


13 Januari 2014

Sunday, 12 January 2014

Pilihan*



Hidup adalah pilihan. Setidaknya begitulah yang sering aku dengar dari banyak orang. Kita bebas menentukan pilihan masing-masing. Memvonis bahwa hidup ini indah, menyenangkan atau hidup ini kejam, menyedihkan. Terserah. Sebab kita sendiri yang menjalani dengan segenap risiko yang mengikuti.

Wednesday, 1 January 2014

Langit




Kau tau 

Sudah berulang kali kucoba memetakan

Mencari celah untuk kita meloloskan diri

Dari satu tempat yang tak kunjung selesai kupetakan

Waktu telah serupa kenangan duka

Masa menjelma bangku kayu yang keropos

Lalu kemana pergimu menjamu raguku

Ah ya, mungkin memang benar

Celah itu hanya dongeng tua yang merenda asa asa yang terputus dari tali takdirnya.


Solo . 31 . 12 . 13
20:53
THEME BY RUMAH ES