Monday, 18 August 2014

Melarung Mei




Sudah Agustus pertengahan akhir. Padahal, sebenarnya saya sudah menulis judul ini sejak Juni paling awal.


Dalam rentang Juni hingga Agustus (lagi-lagi) 'sebenarnya' ada banyak yang ingin saya tulis. Tidak sedikit ini itu yang saya rencanakan untuk dicuap-cuap-kan di blog ini. Namun, yah gagal. Di bulan Juni saya hanya menghasilkan tiga postingan nggak penting. Juli, yang mana ada satu momen 'spesial' dimana tanggal 9 begitu ramai dipromosikan. Pemilu. Ya, pemilu pilpres pertama saya seumur hidup yang tanpa sengaja bersamaan dengan ulang tahun saya ke-19.

Setelah mewarnai kelingking dengan tinta ungu yang susah hilang saya 'sebenarnya' ingin langsung membuat postingan dengan judul Hey! I'm 19 y.o dengan semangat menggebu. Bagaimana tidak menggebu-gebu bila sewaktu menunggu antrian saya ditanyain salah seorang panitia sekaligus tetangga dengan versi bahasa Indonesianya nyoblos? memangnya kamu udah tujuh belas tahun? Sedikit lega karena ada ibu saya yang segera mengklarifikasi dengan wah, udah Om, sekarang ulangtahunnya malah, yang ke 18.

18 -> itu benar-benar ibu saya yang bilang. >.<

Oke, jadi, bagaimana saya tidak semangat empat lima membuat postingan 'menyedihkan' semacam itu? Namun, kenyataannya gagal juga. Menghibur diri, saya memutuskan untuk belajar satu hal bahwa selamanya semangat saja tidak akan pernah cukup untuk melakukan sesuatu. Selalu butuh lebih dari semangat untuk membuat sesuatu tidak sebatas pada angan-angan semata.

Skip.

Agustus? Ah, saya belum membuat postingan apapun di bulan merah putih ini. Tulisan ini akan jadi yang pertama jika selesai dan diklik publikasikan bukan simpan atau sekadar pratinjau.




Melarung Mei. Barangkali tulisan ini (dengan judul seperti ini) sudah teramat basi, secara sekarang sudah bulan Agustus. Namun, saya merasa bertanggung jawab atas perjalanan singkat-mengejutkan-tapi luar biasa ini. Walaupun saya tidak lupa dengan apa-apa yang ingin saya tulis akhir Mei - awal Juli lalu, namun mendadak sebagian besar dari itu sudah tidak penting lagi.



2014. Pertama-tama. Terimakasih tiada tara untuk Mbak Atin. Saya akhirnya ngerasain jalan kaki di jalanan curam, malam hari, perut lapar, napas terputus-putus, dingin gigil menggigit, api unggun yang terlalu berasap, mi instan sumpit ranting, jagung bakar bersaos, satu tenda berimpit, alas tidur jas hujan minimal, dan malam pelarungan Mei meraih Juni yang luar biasa.



Melihat kota Jogja pada malam hari dari tingkat demi tingkat Gunung Api Purba Langgeran, Gunungkidul, Yogyakarta, senantiasa akan terasa lebih cantik dari Bukit Bintang. Bukan karena pemandangannya lain. Namun, karena usaha untuk mencapai titik pandangnya. Bukankah, selamanya sesuatu yang sulit tidak akan pernah membayar murah keindahan sederhana dan 'biasa' sekalipun?


Mendaki, melelahkan. Menikmati api unggun dan matahari terbit, menyenangkan. Kita sudah bersusah payah mendaki, dan pada akhirnya mencapai bayaran setimpal di puncak Langgeran. Tapi, akan sampai kapan?

Kita harus turun.

Kesuksesan tidak berbeda dengan kesedihan.

Ia juga hanya sementara.



18 Agustus 2014







No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES