Setiap
lagu-lagu berbahasa asing yang tidak Fah pahami artinya berakhir, hatinya
senantiasa berdesir. Apakah giliran lagu kesukaannya telah tiba? Ah, bukan.
Namun, Fah selalu sabar menunggu. Menanti dengan tenang di sebalik tembok kafe sembari
duduk di bangku kayu selebar dua puluh senti yang memanjang sepanjang hampir
dua meter. Kadang-kadang sambil merokok, jika Mas Yan memberi rokok. Sembari
makan jagung rebus jika Pak Abdul memberi hibah jagung sisa jualan kemarin.
Atau sembari tidak melakukan apa-apa.
Meski
mesti menempelkan badan rapat-rapat ke dinding jika ada sepeda motor yang
melintasi gang sempit itu, bagi Fah bukan masalah besar. Ya, masalah besar juga
jika yang lewat adalah pengelola kontrakan rumahnya. Fah pasti akan dicibir
habis-habisan soal bapaknya yang selalu nunggak bayar uang sewa. Kalau sedang
apes begitu, Fah cuma bakal diam dan pura-pura mendengarkan omelan galak
panjang kali lebar yang esensinya cuma tentang satu hal: suruh bapakmu bayar kontrakan bulan lalu! Sudah. Kemudian, preman
yang sok merasa pemilik kontrakan itu akan menggeber motornya dengan angkuh dan
pergi menghilang. Selama orang itu tidak muncul saat lagu favoritnya diputar,
Fah bisa tenang.
Sebenarnya
ia suka semua lagu yang diputar di kafe itu. Meski banyak yang tidak ia pahami
artinya dan kadang bikin mengantuk juga, tapi sebenarnya melodinya cocok buat
telinga Fah yang benci penyanyi yang suka teriak-teriak. Bikin sakit kepala
saja menurutnya. Setelah dari pagi sampai sore lelah bekerja jadi buruh
bangunan, tentu saja Fah ingin mendengarkan musik yang tidak bikin tambah
capek. Syukur-syukur lagunya yang bisa mewakili kegelisahan hatinya. Kalau
sudah begitu, bagaimana bisa Fah tidak makin setia menunggu.
Fah
juga menyukai desain kafe itu, meski belum pernah masuk. Dari luar, kafe yang
belum lama dibangun itu tampak indah. Perabotannya bagus-bagus dan tentu saja
musik-musiknya keren. Konon, kata Mas Yan yang merupakan salah satu pelayan
kafe sekaligus tetangga satu kontrakan Fah, kafe tempatnya bekerja masih satu
manajemen dengan mall dekat situ yang
parkirnya sering tumpah sampai ke badan jalan. “Wah, yang punya pasti kaya
banget ya, Mas” ujar Fah takjub.
“Kamu kepingin jadi orang kaya,
Fah?” tanya Mas Yan yang jam kerjanya hari itu sudah usai.
“Pingin banget, Mas. Kalau aku orang
kaya, atau anak orang kaya, mungkin aku bisa ganteng banget dan pastinya cocok
dengan Shinta si anak Pak DPR,” jawab Fah sambil cengengesan.
“Cuma itu?”
“Ya enggak dong, Mas. Banyak lagi
yang bisa dilakuin orang kaya, kan. Misalnya, aku bisa gampang nyusulin Shinta
kalau doi lagi jalan-jalan ke luar negeri. Gitu, mantap kan.”
“Fah...Fah. Kontrakan kita itu lho, bulan depan kayaknya giliran kena gusur. Kontrakan yang lebih murah udah enggak ada lagi. Mau tinggal di mana nanti harusnya kamu udah mulai ikut mikir bapakmu itu. Lha kok kamu ini malah cinta-cintaan mulu.”
“Kabar itu beneran to, Mas? Jadi mau dibangun mall lagi di sana?”
“Lebih benernya, mau dibangun mall yang ada hotelnya, Fah. Sekampung deh
kayaknya yang digusur.”
Mampus... mampus. Walaupun seumur hidup tinggal di rumah kontrakan yang bayarnya suka telat, tapi Fah tumbuh besar di sana. Sampai pemilik dan pengelola kontrakan berganti hingga puluhan kali, Fah dan bapaknya masih tetap bertahan di sana. Bisa dibilang tempat itu adalah kampung halamannya yang penuh cerita.
Ada tentang ibunya yang sayang padanya dan meninggal di sana dua tahun setelah Fah lulus SMP. Itu sekitar tujuh tahun silam. Ada juga Mbok Ndar, masih hidup dan masih giat dagang pecel keliling dan sering mampir ke kontrakan. Yang sudah mati adalah anaknya yang paling tua, yang hampir sebaya dengan Fah, yang sudah Fah anggap jadi adik sendiri. Meski agak bandel tapi Fah menyayangi bocah yang telah pergi selama-lamanya dua tahun lalu secara mendadak dan misterius. Waktu itu tubuhnya dibawa ke rumah sudah jadi mayat. Entah apa yang terjadi di tempatnya bekerja kuli di pasar sana. Ada Pak Abdul. Ada Mas Yan, yang rela menghabiskan kuota internet untuk kepo lirik lagu-lagu kesukaan Fah di kafe. Ada teman-temannya, si Adi, Japri, Sari. Ada... ada.. ada banyak orang lagi yang mulai tidak bisa Fah sebutkan satu per satu. Otaknya mulai kusut.
Harus kemana. Tinggal di pinggir kali. Di pinggiran kuburan. Atau di gardu pos ronda. Semua sudah ada yang punya. Sudah ada yang bertahun-tahun mediami tempat-tempat itu. Mereka yang tidak lebih beruntung dari Fah itu, bahkan besar kemungkinan juga terancam kena gusur. Di mana. Di mana. Di mana. Fah bingung. Pasti bapaknya meriang terus berhari-hari ini karena sakit pikiran. Fah mengeplak kepalanya sendiri. Ia tolol sekali. Berita begini gawat, kenapa ia baru paham. Sekali lagi Fah mengeplak kepalanya yang terasa kopong.
Setelah seolah tuli selama beberapa waktu semenjak Mas Yan pamit pulang duluan tadi, Fah seperti mulai bisa mendengarkan kembali. Telinganya tembus oleh lagu kesukaannya nomor satu. Tetapi meski amat suka, untuk sekarang entah kenapa Fah tidak ingin ikut bernyanyi. Mulutnya terkunci. Pikirannya yang karut-marut melayang-layang.
Lagu kesukaannya terus mengalun. Lagu yang mengisahkan tentang perempuan yang gemar jalan-jalan ke mana saja, ke luar negeri juga pastinya. Lagu yang benar-benar sangat Shinta. Makanya Fah suka. Suatu saat nanti Fah ingin bisa mempersembahkan lagu itu buat Shinta, menekankan baik-baik bagian lirik ah, kau Puan Kelana, mengapa musti ke sana?/ Jauh-jauh Puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama./ Mari, Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba./ Toh, hujan sama menakjubkannya, di Paris atau di tiap sudut Surabaya.//¹
Lantas bertanya, romantis sekali kan Shinta? Shinta yang cantik dan anak DPR. Lalu impian indah yang disimpan Fah sejak pertama kali mendengarkan lagu itu jadi rusak seketika tatkala ucapan terakhir Mas Yan sesaat sebelum ia pamit pulang terngiang. Jangan mimpi terus Fah, bangun.
Shinta yang bulan, yang senantiasa dirindukan Fah yang pungguk. Bulan bikin indah langit malam. Pungguk? Sesungguhnya Fah sendiri pun tidak tahu apa itu pungguk. Kalau artinya mirip-mirip punggung, berarti pastilah tidak keren. Orang saja pasti dinilai rupawan atau tidaknya itu dari wajahnya. Perkara punggungnya penuh panu, itu masalah lain, kan tidak kelihatan juga. Saat terkadang masih bisa berpapasan di pertigaan gang ke komplek perumahan dan gang kekampung saja, jarak antara dirinya dan Shinta rasanya sudah sejauh bumi dan langit. Bagaimana nanti. Gimana kalau aku rindu, Shin.
Jangan mimpi terus Fah, bangun. Ahh! Fah menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak gatal. Rasanya ia jadi ingin minum. Tapi ini malam jumat. Fah selalu takut bikin dosa kalau malam jumat. Fah menggaruki kulit kepalanya lagi. Kali ini jauh lebih kasar.
Perasaan aneh mulai merayapi Fah. Menyatu dengan dingin angin malam yang kelam. Membikin dadanya ngilu. Ia merasa seperti ingin marah, hela napasnya berat, mulutnya pahit seperti orang sakit, dan pikirannya terus melayang-layang. Alamak! Alamak mampus aku.
Gagal mabuk, ia jadi ingin teriak-teriak. Fah bangkit dari duduknya. Ia berjalan menyusuri gang arah kampungnya. Ia berhenti menunggu lagu kesukaannya yang nomor dua. Dari band yang sama. Namun, kali ini hatinya menolak mendengarkannya. Sekejap berikutnya Fah tertawa.
Hahaha.
Ia heran sendiri. Mengapa dirinya bisa begini peduli.
Hahaha.
Persetan.
Hahaha.
O, demi tuhan, atau demi setan, sumpah aku ingin rumah untuk pulang!/
–kota menghisapku habis, tubuh makin tipis, dompetku kembang-kempis—//²
***
Catatan:
¹Lirik
lagu karya Silampukau, berjudul Puan
Kelana.
²Lirik
lagu karya Silampukau, berjudul Lagu
Rantau.
250317
No comments:
Post a Comment