Sampai detik ini, apa penyesalan terbesar dalam hidupmu?
Senin, tanggal merah. Malam beranjak tua sementara hujan telah reda.
Maret. Tidak ada kejutan seperti yang saya harapkan bahkan hingga bulan telah sampai ujungnya yang paling ujung. Perlahan saya mulai percaya bahwa kesempatan emas atau anggap saja 'keberuntungan yang sama' tidak datang dua kali. Mungkin memang benar demikian, dan kesempatan yang datang berikutnya bisa jadi hanya sebatas kesempatan platinum atau silver, not gold. Atau mungkin juga tidak akan ada lagi kesempatan.
Waktu habis.
Akhir-akhir ini seorang sahabat sering kali menyebut-nyebut kalimat let it flow. Kalau kami sedang mengobrol, ujung-ujungnya dia pasti akan kembali ke 'biarkan mengalir'. Dia bilang, dia sedang berusaha mendoktrin otaknya dengan kalimat sakralnya itu. Lama-lama saya gemas juga.
Kenapa harus biarkan mengalir? Dalam pikiran saya, let it flow mengindikasikan kepasrahan. Pasrah sepasrah-pasrahnya. Kepasrahan yang begitu dekat dengan keputusasaan, menyerah, dan kalah.
Rasanya aneh mendengarmu merapalkan kalimat itu berulang-ulang hingga di telinga terdengar seperti mantra sakti mandraguna. Selama ini aku mengenalmu sebagai orang yang 'rumit'. Sesorang yang kebanyakan mikir, yang sebenarnya lebih tepat dibilang sebagai orang yang terlalu mudah khawatir. Kamu memikirkan lalu mengkhawatirkan banyak hal secara berlebihan. Positifnya kamu jadi orang yang cukup hati-hati sebelum melangkah. Semuanya dipikirkan masak-masak. Namun, seringkali hal itu memenjarakan dirimu sendiri. Perhitunganmu seringkali justru membuatmu kesulitan untuk melihat jalan yang membentang di hadapanmu.
Sebenarnya, di mata saya itu kelebihanmu. Kamu jadi orang yang rapi walaupun agak rumit.
Tapi sayangnya, di akhir segala perhitunganmu, kamu kembali lagi kepada mantra sakralmu, let it flow.
Jadi, setelah semua kerumitanmu kamu berhenti begitu saja? Membatu, membiarkan segalanya berjalan semaunya tepat di depanmu?
Jalan delapan belas tahun, rasanya banyak hal yang telah saya lewatkan karena kepasrahan saya. Terkadang saya mengutuki diri sendiri sebab menjadi orang yang tidak bisa dikatakan ambisius. Saya rasa, saya sudah terlalu banyak pasrah. Dan pada akhirnya kehilangan banyak hal, yang sebenarnya mungkin masih bisa saya perjuangkan atau setidaknya saya perbaiki.
*
Senin, tanggal merah. Malam beranjak tua sementara hujan telah reda.
Maret. Tidak ada kejutan seperti yang saya harapkan bahkan hingga bulan telah sampai ujungnya yang paling ujung. Perlahan saya mulai percaya bahwa kesempatan emas atau anggap saja 'keberuntungan yang sama' tidak datang dua kali. Mungkin memang benar demikian, dan kesempatan yang datang berikutnya bisa jadi hanya sebatas kesempatan platinum atau silver, not gold. Atau mungkin juga tidak akan ada lagi kesempatan.
Waktu habis.
*
Akhir-akhir ini seorang sahabat sering kali menyebut-nyebut kalimat let it flow. Kalau kami sedang mengobrol, ujung-ujungnya dia pasti akan kembali ke 'biarkan mengalir'. Dia bilang, dia sedang berusaha mendoktrin otaknya dengan kalimat sakralnya itu. Lama-lama saya gemas juga.
Kenapa harus biarkan mengalir? Dalam pikiran saya, let it flow mengindikasikan kepasrahan. Pasrah sepasrah-pasrahnya. Kepasrahan yang begitu dekat dengan keputusasaan, menyerah, dan kalah.
*
Rasanya aneh mendengarmu merapalkan kalimat itu berulang-ulang hingga di telinga terdengar seperti mantra sakti mandraguna. Selama ini aku mengenalmu sebagai orang yang 'rumit'. Sesorang yang kebanyakan mikir, yang sebenarnya lebih tepat dibilang sebagai orang yang terlalu mudah khawatir. Kamu memikirkan lalu mengkhawatirkan banyak hal secara berlebihan. Positifnya kamu jadi orang yang cukup hati-hati sebelum melangkah. Semuanya dipikirkan masak-masak. Namun, seringkali hal itu memenjarakan dirimu sendiri. Perhitunganmu seringkali justru membuatmu kesulitan untuk melihat jalan yang membentang di hadapanmu.
Sebenarnya, di mata saya itu kelebihanmu. Kamu jadi orang yang rapi walaupun agak rumit.
Tapi sayangnya, di akhir segala perhitunganmu, kamu kembali lagi kepada mantra sakralmu, let it flow.
Jadi, setelah semua kerumitanmu kamu berhenti begitu saja? Membatu, membiarkan segalanya berjalan semaunya tepat di depanmu?
*
Gara-gara mantra let it flow-mu, akhir-akhir ini saya jadi sering ketularan berpikir agak 'rumit'. Menanggalkan sejenak mantra make it simple yang saya pegang.
Jalan delapan belas tahun, rasanya banyak hal yang telah saya lewatkan karena kepasrahan saya. Terkadang saya mengutuki diri sendiri sebab menjadi orang yang tidak bisa dikatakan ambisius. Saya rasa, saya sudah terlalu banyak pasrah. Dan pada akhirnya kehilangan banyak hal, yang sebenarnya mungkin masih bisa saya perjuangkan atau setidaknya saya perbaiki.
*
Kamu pernah menyesal?
Kamu punya penyesalan yang tidak kunjung bisa kamu temukan cara untuk melunasinya?
*
Detik ini saya menyesali seluruh waktu yang saya lewati dengan rasa marah, menyerah, dan lalai.
Saya benci dengan diri saya yang merasa pantas mengabaikan banyak hal.
*
Mungkin kamu membaca tulisan ini, dan kemungkinan besar persepsi kita mengenai tiga kata asing itu berbeda. Mungkin dan semoga let it flow untukmu bukan berarti pasrah dan menyerah.
Tegur saya bila saya salah.
*
*
Malam terus menua. Saya berharap hujan, turun lagi.
***
Semin, 31 Maret 2014

No comments:
Post a Comment