Wednesday, 25 September 2019

Selepas Lulus



Saya tidak lahir di sini, di tempat tinggal orang tua saya yang sekarang, melainkan di kampung halaman ibuk. Namun begitu, saya tidak melalui masa balita di sana, tetapi di sini, di kampung halaman bapak. Di sini, pendidikan TK nol kecil, nol besar sampai sekolah dasar saya tempuh sampai tamat. Di jenjang selanjutnya, yakni SMP saya bersekolah di kecamatan sebelah yang jaraknya sekitar dua puluhan menit jika ditempuh menggunakan sepeda motor. Sewaktu SMA saya sekolah di kota kabupaten. Lalu saya berkuliah di sebuah kampus negeri di Solo. Setelah pendadaran dan dinyatakan lulus, saya pulang kampung meski masih sering bolak-balik mengurus revisi dan wisuda.

Rentang waktu sejak selesai revisian hingga akhirnya wisuda cukup lama, dan yang saya lakukan adalah melakukan banyak hal yang hanya bisa dilakukan saat saya ada di rumah seperti berkebun dengan asiknya, membantu ibuk memasak, makan bersama keluarga dalam satu meja, dan banyak hal lainnya yang telah sangat saya rindukan. Untuk sekadar bertahan hidup dan membayar asuransi kesehatan, saya mengerjakan proyek kecil-kecilan mulai dari proyek pribadi semacam kriya dan penyuntingan, hingga proyek milik ibuk dengan membantu mengurus pesanan, menyiapkan kalau hendak pameran, atau kadang ikut serta juga dalam perlombaan. Kalau diingat-ingat, bahkan saya sempat mengikuti kelas tata boga dan mendapat bantuan alat dan sertifikat. Saya pribadi merasa masa "nganggur" kemarin itu tidak "nganggur-nganggur" amat, apalagi sia-sia. Saya merasa mendapat banyak hal tak terduga dan yang pasti saya bahagia.

Tuesday, 1 January 2019

Dua Puluh Delapan Belas


terkadang kita lebih gemar berkutat dengan akhir,
lupa bahwa akhir selalu merupakan awal,

atau hanya saya?

Sunday, 11 November 2018

Tentang Cita-Cita dan Doa Malam Ini


Apa cita-citamu sewaktu kecil? Apa cita-citamu sekarang? 
Makin menua, apa-apa mungkin memang jamak terasa mengabur.

*

Wednesday, 18 July 2018

Perpisahan yang Menyenangkan



Meski sudah berkali-kali menemui perpisahan, saya baru sadar bahwa sampai mati nanti manusia akan senantiasa menghadapinya. Orang datang dan pergi sewaktu-waktu, sampai terkadang kita tidak sadar jika hal-hal mewujud sesuatu yang terjadi untuk terakhir kalinya.

Saturday, 31 March 2018

Hal-Hal Baik

Dua ribu delapan belas sudah tiba di Maret. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tidak berekspektasi apa-apa. Namun, sayang manusia tidak pernah bisa benar-benar terbebas dari harapan yang mewujud sebentuk bayangan ideal dalam benaknya. Pada akhirnya manusia akan selalu mencecap getir tatkala menghadapi hal-hal yang tidak seirama dengan nuraninya. Sebagai seorang yang telah sekian lama memilih dan melatih diri untuk hidup tanpa ambisi macam-macam, saya merasa dunia kini terlampau bising.

Tuesday, 20 March 2018

Tuhan, Manusia, dan Ilmu Padi


            Seperti Tuhan
     (Adimas Immanuel)
Sewaktu kecil dengan suka hati kau menilai diri
dan bertanya “apa Tuhan sepertiku?”
Setelah dewasa kau sesuka hati menilai orang lain
dan bertanya “apa aku seperti Tuhan?”
     2014

Tuhan, adalah sesuatu yang selalu menarik buat diperbincangkan. Pembicaraan mengenai Tuhan seolah tiada habisnya buat diperbincangkan manusia. Seperti pengarang muda satu ini, Adimas Immanuel yang banyak melibatkan Tuhan saat berpuisi. Salah satu puisi yang mengajak Tuhan buat berperan ialah, karyanya yang tidak begitu panjang, yakni Seperti Tuhan.

Puisi, Ruang Sunyi, dan Beberapa Pertanyaan

Di antara berbagai bentuk karya sastra, selama ini puisi seolah berada di ruang yang lain dari cerpen dan novel. Ditilik dari segi kuantitas, puisi dapat dikatakan selalu menempati urutan terkecil. Keberadaannya bukan semacam “hidup segan mati tak mau”, melainkan lebih seperti nyala lilin yang konstan, yang apinya tidak bisa membesar atau mengecil seperti sebuah api unggun. Sebagai lilin dengan penikmat yang cuma segelintir orang, puisi seolah hidup dalam kesunyian. Keberadaannya seolah tidak untuk dirayakan beramai-ramai, seperti (lagi-lagi) api unggun.
THEME BY RUMAH ES