Di antara berbagai bentuk karya
sastra, selama ini puisi seolah berada di ruang yang lain dari cerpen dan
novel. Ditilik dari segi kuantitas, puisi dapat dikatakan selalu menempati
urutan terkecil. Keberadaannya bukan semacam “hidup segan mati tak mau”,
melainkan lebih seperti nyala lilin yang konstan, yang apinya tidak bisa
membesar atau mengecil seperti sebuah api unggun. Sebagai lilin dengan penikmat
yang cuma segelintir orang, puisi seolah hidup dalam kesunyian. Keberadaannya
seolah tidak untuk dirayakan beramai-ramai, seperti (lagi-lagi) api unggun.
Sejak
reformasi, dunia sastra Indonesia pernah diramaikan oleh booming novel dengan
genre sastra wangi. Beberapa waktu kemudian booming sastra islami. Setelah itu,
sastra inspiratif mengambil alih tema-tema per-novel-an. Pengarang-pengarang di
seluruh penjuru negeri baik senior maupun junior, pengarang kawakan atau
pengarang yang baru menulis satu dua buku, bermunculan dengan begitu
semaraknya. Penerbit dan otomatis toko buku pun seolah tidak pernah kekurangan
karya dan pengarang novel. Kehidupan novel sedemikian dinamisnya. Namun, apa
kabar puisi?
Pada dasarnya, jika
diperbandingkan melalui ruang sastra di surat kabar, puisi dan cerpen memiliki
porsi yang setara. Surat kabar yang memiliki halaman khusus sastra, biasanya
memuat kedua jenis karya sastra tersebut dan bukan hanya salah satunya saja.
Karya-karya yang dimuat tersebut, seperti lazimnya berbagai media, berasal dari
kiriman pengarang dan penyair dari masyarakat umum. Namun, lebih jauh lagi,
dalam bentuk buku yang diterbitkan dan beredar di toko buku, buku puisi kalah
jauh dengan buku antologi cerita pendek.
Buku antologi cerita pendek cukup
banyak meskipun jumlahnya tidak sebanyak novel. Di toko buku banyak beredar
karya antologi cerpen yang berisi cerpen-cerpen seorang pengarang yang
sebelumnya telah dipublikasikan di media masa. Tidak sedikit bahkan penerbit
yang sengaja mengkompilasikan cerpen dari beberapa pengarang yang baru memulai
debut karir kepenulisan. Namun, fenomena yang terjadi, aktivitas pembukuan yang
semacam itu amat jarang diterapkan untuk puisi. Di sini, pengarang-pengarang
kategori abuku antologi cerpen terbilang variatif. Maksudnya di sini ialah,
pengarang buku antologi cerpen tidak terlalu stereotipe dengan didominasi
cerpenis kawakan semata.
Kondisi tersebut sangat kontras
dengan nasib buku puisi. Di toko buku, kehadiran puisi tidak banyak, bahkan dapat
dibilang sangat sedikit. Lebih lagi, kehadiran buku puisi terkesan dimonopoli
oleh karya-karya hasil cetak ulang dari penyair kawakan, misalnya seperti karya
Chairil Anwar yang cetakan pertamanya sudah puluhan tahun lalu. Dalam kata
lain, ruang buat puisi seolah hanya disediakan untuk penyair kawakan,
legendaris saja. Hal ini bisa dilihat dari minimnya bahkan hampir tidak adanya
nama-nama penyair baru di sampul-sampul buku kumpulan puisi di rak-rak toko
buku Indonesia. Regenerasi karya puisi dan penyair di Indonesia menjadi
terkesan sangat lambat.
Apabila ada satu dua buku puisi
yang baru, biasanya pun adalah jebolan sebuah kompetisi. Sebut saja, di toko
buku baru-baru ini beredar buku kumpulan puisi “Sergius Mencari Bacchus”, “Kawitan”, dan “Ibu Mendulang Anak Berlari” yang masing-masing adalah karya Norman
Erikson Pasaribu, Ni Made Purnama Sari, dan Cyntha Hariadi. Ketiganya merupakan
hasil Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015 yang kemudian beredar di toko
buku setelah diterbitkan Gramedia.
Geliat
buku puisi bisa dibilang baru memercik akhir-akhir ini. Indikator sederhananya
ialah meledaknya buku puisi karya Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini. Bisa jadi
buku tersebut adalah kumpulan puisi pertama yang paling berhasil dari segi
penjualan mengingat konon baru beberapa minggu sudah mengalami cetak ulang
beberapa kali dan untuk mendapatkannya harus susah payah berburu di toko buku online, karena toko buku offline sering kehabisan stok
Aan Mansyur sudah menulis beberapa
buku sebelum Tidak Ada New York Hari Ini.
Ia merupakan generasi muda di ranah literasi Indonesia. Fakta karyanya
banyak diserbu, terlebih lagi itu merupakan karya puisi dapat menjadi angin
segar bagi dunia perpuisian Indonesia.
Di masyarakat, puisi, barangkali
selama ini dikenal sebagai bentuk yang “eksklusif”. Dengan bahasa dan bentuk
yang diramu sedemikian rupa, puisi terasa seolah menempati ruang yang berbeda.
Untuk menjamahnya, seakan tidak bisa dijangkau setiap orang. Hal tersebutlah
barangkali yang menyebabkan puisi “kurang dapat diterima” masyarakat. Jika
kemudian sekumpulan puisi Aan Mansyur begitu digandrungi, maka perlu dipikirkan
aspek-aspek mengenai puisi-puisi karya Aan secara lebih mendalam yang
barangkali mengindikasikan pembaruan dalam dunia puisi. Namun, sejauh ini hal
termudah untuk dilakukan ialah dengan mudah menuuduh karya Aan tersebut menjadi
karya yang “berhasil” dan seolah mampu memecah kesunyian dunia puisi kita oleh
sebab adanya faktor “endorsement”
yang kuat melalui film Ada Apa Dengan
Cinta 2.
Pertanyaan berikutnya, apakah
setelah ini nasib buku puisi akan lebih “meriah”? Akankah penerbit berani
menyeleksi naskah kumpulan puisi kemudian menerbitkannya tanpa memandang bulu
penyairnya? Tanpa lagi ketakutan akan merugi karena puisi telah diminati
sebagaimana novel dan kumpulan cerpen? Pertanyaan-pertanyaan yang terkesan
sangat ekonomis, namun realistis. Di era industri kreatif yang serba bisnis,
mustahil segala sesuatu bergerak tanpa orientasi keuntungan.
Apakah pada akhirnya semua mesti
bermuara kepada sesuatu yang disebut dengan budaya massa? Jika selama ini
dikenal dikotomi antara novel serius dan novel populer, begitu pula dengan
cerpen. Bagaimana dengan puisi serius? Puisi populer?
Yang pasti, ruang sunyi dengan
pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab.[]
Ditulis untuk salah satu tugas mata kuliah Kapita Selekta Sastra (Juni, 2016).
Ditulis untuk salah satu tugas mata kuliah Kapita Selekta Sastra (Juni, 2016).
No comments:
Post a Comment