Tuesday, 20 March 2018

Puisi, Ruang Sunyi, dan Beberapa Pertanyaan

Di antara berbagai bentuk karya sastra, selama ini puisi seolah berada di ruang yang lain dari cerpen dan novel. Ditilik dari segi kuantitas, puisi dapat dikatakan selalu menempati urutan terkecil. Keberadaannya bukan semacam “hidup segan mati tak mau”, melainkan lebih seperti nyala lilin yang konstan, yang apinya tidak bisa membesar atau mengecil seperti sebuah api unggun. Sebagai lilin dengan penikmat yang cuma segelintir orang, puisi seolah hidup dalam kesunyian. Keberadaannya seolah tidak untuk dirayakan beramai-ramai, seperti (lagi-lagi) api unggun.

Sejak reformasi, dunia sastra Indonesia pernah diramaikan oleh booming novel dengan genre sastra wangi. Beberapa waktu kemudian booming sastra islami. Setelah itu, sastra inspiratif mengambil alih tema-tema per-novel-an. Pengarang-pengarang di seluruh penjuru negeri baik senior maupun junior, pengarang kawakan atau pengarang yang baru menulis satu dua buku, bermunculan dengan begitu semaraknya. Penerbit dan otomatis toko buku pun seolah tidak pernah kekurangan karya dan pengarang novel. Kehidupan novel sedemikian dinamisnya. Namun, apa kabar puisi?

Pada dasarnya, jika diperbandingkan melalui ruang sastra di surat kabar, puisi dan cerpen memiliki porsi yang setara. Surat kabar yang memiliki halaman khusus sastra, biasanya memuat kedua jenis karya sastra tersebut dan bukan hanya salah satunya saja. Karya-karya yang dimuat tersebut, seperti lazimnya berbagai media, berasal dari kiriman pengarang dan penyair dari masyarakat umum. Namun, lebih jauh lagi, dalam bentuk buku yang diterbitkan dan beredar di toko buku, buku puisi kalah jauh dengan buku antologi cerita pendek.

Buku antologi cerita pendek cukup banyak meskipun jumlahnya tidak sebanyak novel. Di toko buku banyak beredar karya antologi cerpen yang berisi cerpen-cerpen seorang pengarang yang sebelumnya telah dipublikasikan di media masa. Tidak sedikit bahkan penerbit yang sengaja mengkompilasikan cerpen dari beberapa pengarang yang baru memulai debut karir kepenulisan. Namun, fenomena yang terjadi, aktivitas pembukuan yang semacam itu amat jarang diterapkan untuk puisi. Di sini, pengarang-pengarang kategori abuku antologi cerpen terbilang variatif. Maksudnya di sini ialah, pengarang buku antologi cerpen tidak terlalu stereotipe dengan didominasi cerpenis kawakan semata.

Kondisi tersebut sangat kontras dengan nasib buku puisi. Di toko buku, kehadiran puisi tidak banyak, bahkan dapat dibilang sangat sedikit. Lebih lagi, kehadiran buku puisi terkesan dimonopoli oleh karya-karya hasil cetak ulang dari penyair kawakan, misalnya seperti karya Chairil Anwar yang cetakan pertamanya sudah puluhan tahun lalu. Dalam kata lain, ruang buat puisi seolah hanya disediakan untuk penyair kawakan, legendaris saja. Hal ini bisa dilihat dari minimnya bahkan hampir tidak adanya nama-nama penyair baru di sampul-sampul buku kumpulan puisi di rak-rak toko buku Indonesia. Regenerasi karya puisi dan penyair di Indonesia menjadi terkesan sangat lambat.

Apabila ada satu dua buku puisi yang baru, biasanya pun adalah jebolan sebuah kompetisi. Sebut saja, di toko buku baru-baru ini beredar buku kumpulan puisi “Sergius Mencari Bacchus”, “Kawitan”, dan “Ibu Mendulang Anak Berlari” yang masing-masing adalah karya Norman Erikson Pasaribu, Ni Made Purnama Sari, dan Cyntha Hariadi. Ketiganya merupakan hasil Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015 yang kemudian beredar di toko buku setelah diterbitkan Gramedia.

Geliat buku puisi bisa dibilang baru memercik akhir-akhir ini. Indikator sederhananya ialah meledaknya buku puisi karya Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini. Bisa jadi buku tersebut adalah kumpulan puisi pertama yang paling berhasil dari segi penjualan mengingat konon baru beberapa minggu sudah mengalami cetak ulang beberapa kali dan untuk mendapatkannya harus susah payah berburu di toko buku online, karena toko buku offline sering kehabisan stok

Aan Mansyur sudah menulis beberapa buku sebelum Tidak Ada New York Hari Ini. Ia merupakan generasi muda di ranah literasi Indonesia. Fakta karyanya banyak diserbu, terlebih lagi itu merupakan karya puisi dapat menjadi angin segar bagi dunia perpuisian Indonesia.

Di masyarakat, puisi, barangkali selama ini dikenal sebagai bentuk yang “eksklusif”. Dengan bahasa dan bentuk yang diramu sedemikian rupa, puisi terasa seolah menempati ruang yang berbeda. Untuk menjamahnya, seakan tidak bisa dijangkau setiap orang. Hal tersebutlah barangkali yang menyebabkan puisi “kurang dapat diterima” masyarakat. Jika kemudian sekumpulan puisi Aan Mansyur begitu digandrungi, maka perlu dipikirkan aspek-aspek mengenai puisi-puisi karya Aan secara lebih mendalam yang barangkali mengindikasikan pembaruan dalam dunia puisi. Namun, sejauh ini hal termudah untuk dilakukan ialah dengan mudah menuuduh karya Aan tersebut menjadi karya yang “berhasil” dan seolah mampu memecah kesunyian dunia puisi kita oleh sebab adanya faktor “endorsement” yang kuat melalui film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Pertanyaan berikutnya, apakah setelah ini nasib buku puisi akan lebih “meriah”? Akankah penerbit berani menyeleksi naskah kumpulan puisi kemudian menerbitkannya tanpa memandang bulu penyairnya? Tanpa lagi ketakutan akan merugi karena puisi telah diminati sebagaimana novel dan kumpulan cerpen? Pertanyaan-pertanyaan yang terkesan sangat ekonomis, namun realistis. Di era industri kreatif yang serba bisnis, mustahil segala sesuatu bergerak tanpa orientasi keuntungan.

Apakah pada akhirnya semua mesti bermuara kepada sesuatu yang disebut dengan budaya massa? Jika selama ini dikenal dikotomi antara novel serius dan novel populer, begitu pula dengan cerpen. Bagaimana dengan puisi serius? Puisi populer?

Yang pasti, ruang sunyi dengan pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab.[]


Ditulis untuk salah satu tugas mata kuliah Kapita Selekta Sastra (Juni, 2016).


No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES