Saturday, 4 October 2014

Atau; Oktober pada Dua Ribu Empat Belas


Oktober dua ribu empat belas

Di antara kita tidak ada yang tengah berulang tahun

Namun, seperti biasa

Tetap menjadi lebih tua tiap detik

Namun, senantiasa

Tetap menjadi kekanak-kanak tiap waktu

Waktu bergerak tapi, entah aku atau kamu

Tidak tahu

Tidak mau tahu

Tidak ingin tahu

Atau belum

Jadi, kuharap kamu pulang

Aku pulang

Kita pulang

Mari saling membaca

Lalu berbicara

Mengenai tempat kita kembali bertemu

Apakah ini benar rumah kita

Atau bukan rumah kita

Atau rumahmu saja

Atau hanya rumahku

Atau semuanya hanya ilusiku

Tentang kamu aku kita

Pulang dan rumah

Pada suatu oktober dua ribu empat belas



|Mungkin Rumah|
|05.10.14|
|13.33|



Monday, 18 August 2014

Melarung Mei




Sudah Agustus pertengahan akhir. Padahal, sebenarnya saya sudah menulis judul ini sejak Juni paling awal.

Sunday, 15 June 2014

Cerita Tanpa Usai





Buat Bapak, yang senantiasa mengajarkan saya bagaimana membaca mata angin.

utara itu pada 0 derajat

Bapak ingat? Apa yang selalu saya tunggu-tunggu saat siang menjelang sore hari? Sewaktu masih di taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar saya selalu tidak sabar menunggu Bapak pulang mengajar. Sebab Bapak tidak pernah lupa membelikan buku mewarnai dan majalah anak-anak edisi terbaru.

timur laut, 45 derajat antara utara dan timur

Bapak ingat? Bapak tidak pernah memaksa saya untuk menelan rupa-rupa daging yang tidak pernah bisa saya lakukan. Namun, walau saya menangis, Bapak lebih memilih untuk membuat saya tetap tinggal di rumah daripada berangkat sekolah tanpa sarapan.

Sunday, 8 June 2014

Jatuh Cinta


Pada puisi ini saya pernah jatuh cinta.

Tapi, rasanya sudah lama sekali.



Biar Kuceritakan Pada Senja (Ary Dhamayanti)

Senja
Aku menemuimu lagi selepas hari
Untuk mengadu
Sama seperti kemarin

Biar aku menghadap ke timur saja
Agar mentari tak bisa
Mengintip semu merah di pipiku

Ah senja,
Hari ini aku jatuh cinta



Membacanya membuat saya senantiasa percaya,

bahwa jatuh cinta bahkan seringkali jauh lebih sederhana.




P.S. Saya 'menemukan' puisi ini pertama kali di 
blog.gagasmedia.net beberapa tahun lalu.






Thursday, 15 May 2014

Mei di Jawa Tengah, Terimakasih



PEKSIMIDA Jateng di UMP, 10 Mei 2014

Mei bergerak cepat. Rasanya April masih berkutat di hari-hari tuanya saat saya tidak sengaja membaca pengumuman tentang seleksi seni tingkat Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bagi yang lolos seleksi tersebut nantinya berhak mewakili kampus ke PEKSIMIDA Jawa Tengah 2014. Pekan Seni Mahasiswa adalah agenda yang rutin digelar setiap dua tahun sekali. Untuk daerah Jawa Tengah tahun ini bakal digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Sunday, 27 April 2014

Hujan Harus Usai


Sekali lagi kita diterbangkan kemari

Saat rinai gugur kembali

Diuraikannya angin paling sepi

Untuk segala yang belum tergenapi


Kucari dimana surga

Kelam memulas mega

Apakah kita harus selalu berjumpa

Kala sendu merupa senja


Dan apalagi yang dapat dijelaskan

Oleh diam pada sebuah pertemuan

Tapi barangkali kita bisa merahasiakan

Sejenak tentang cara melupakan


Sudah sepantasnya kita mengerti

Mengapa takdir memesankan secangkir kopi

Yang banyak dinanti

Pada dingin di penghujung hari


Aku tahu sejak kali pertama

Hujan harus usai segera

Lantas mari lekas bicara

Mengenai hujan kesekian yang menyemai luka




Bintang Jatuh


Seingat kita siang itu terang

Lautan berkarang

Rumah punya ruang

Kala petang matahari pulang


Berbicara mengenai lalu

Dadu tentu bersiku

Lagu sepantasnya merdu

Mengapa masih ditemui ragu


Pada suatu hari ketika fajar terlambat

Masa menyerupa kenangan tentang hujan paling lebat

Di pucuk gelap semua berdiam selagi sempat

Kota kita menua tanpa geliat


Merapal sembah sampai langit ketujuh

Barangkali surga bisa runtuh

Sesederhana arakan awan jenuh

Tapi kemarin bintang sudah pernah jatuh



SL210414




THEME BY RUMAH ES