Oke, balik ke topik. Jadi hari itu senin kalo nggak salah, Abi jemput ke rumah pagi. Tujuan pertama dan utamanya adalah ke air terjun atau curug Bangunsari. Ini nggak begitu jauh sih dari rumah. Waktu itu, hujan udah beberapa lama nggak turun. Pas berangkat, Abi udah was-was kalo air terjunnya nggak ada airnya alias mengering. Dan ternyata, begitu sampai lokasi debit air di curugnya itu emang kecil sih. Tapi, sensasi like a private-nya juara, karena awalnya emang nggak ada siapa-siapa selain kami di sana.
Thursday, 3 August 2017
Jalan-Jalan Random di Gunungkidul
Friday, 7 July 2017
Alasan
Mengapa saya melakukan perjalanan?
Seumur hidup saya kemarin-kemarin, jika ditanya demikian barangkali
saya akan kebingungan. Namun, pada akhirnya saya tidak bingung karena tidak ada
yang mengajukan pertanyaan tersebut sampai kemarin saya menanyakannya sendiri
ke diri saya.
Sunday, 11 June 2017
Ngomongin Ziarah, Masa Tua, dan Generasi Mager
Akhirnya nonton Ziarah. Tulisan di sini nggak akan ngebahas atau ngereview film karya BW Purba Negara itu
(meski bakal dipost di bawah label review juga), literally dari segi
perfilman atau apalah itu namanya. Di sini saya cuma akan berbagi perasaan saya
setelah nonton film lokal tersebut. Barusan saya cek di webnya XXI sih di Solo filmnya udah nggak tayang. Kalau kemarin
udah pada nonton, mungkin bisa lebih nyambung.
Pertama tau film ini kalau nggak salah dari berita sekilas
di TV yang ngabarin kalau seorang nenek usia 95 tahun jadi nominator aktris
terbaik AIFFA 2017. Di berita itu ditampilin cuplikan trailer Ziarah pas adegan
nenek yang memerankan tokoh Mbah Sri ini sedang dalam perjalanan di bus.
Pikiran pertama yang terlintas, gatau kenapa saya mikir “ini film Cina apa gimana”. Tapi setelah lihat trailer filmnya
secara utuh saya baru paham kalau film ini seratus persen film Indonesia dan
seratus persen make bahasa pengantar bahasa Jawa. Dari trailer itu juga
samar-samar saya seperti merasa nggak asing dengan setting dan dialek Jawanya. Dan ternyata nih ternyata, lokasi
syutingnya emang sebagian di Gunungkidul. Sebagian lagi di Wonogiri, Boyolali,
(dan lupa di mana lagi). Which is, itu
daerah saya familiar semua. Bahkan Mbah Ponco Sutiyem (pemeran Mbah Sri) itu
orang asli Gunungkidul. Makanya nggak heran kalau istilah bahasa Jawanya pun
plek-plekan kaya yang biasa saya pake. Bahkan di dalam salah satu dialog muncul
juga istilah “wangun” yang biasanya
kalau istilah itu saya pakai ketika di Solo, teman-teman saya pada bingung. Wangun itu artinya semacam ‘pantas’ atau
‘patut’. Oke, skip.
Jadi, awalnya saya nonton film ini karena beberapa alasan.
Pertama, karena mungkin saya baper sebab film itu that’s must be Gunungkidul
banget, yang mana udah jadi kampung halaman saya. Kedua, karena tokohnya adalah
seorang wanita yang sudah sangat tidak muda. Ketiga, karena ini film lokal yang
kayaknya nggak terlihat semata-mata berorientasi duit banget-bangetan. Kelima,
karena saya hampir yakin film ini bakal dibahas di kelas oleh salah satu dari
sangat sedikit dosen keren saya buat didiskusikan, sekalipun saya sudah nggak
menghadiri kelasnya lagi. Tapi entah kenapa dalam hati saya senang aja kalau
nggak kalah referensi filmnya dari beliau. Keenam, saya baca berita kalau
bupati Gunungkidul dan serombongan petani wanita ramai-ramai nonton bareng di
XXI Empire Jogja. Saya makin penasaran aja jadinya. Kenapa gitu.
Sunday, 28 June 2015
Menyimak Impian dan Kenyataan (Review Of Mice and Men karya John Steinbeck)
Judul :
Of Mice and Men: Tragedi Hidup Manusia
Penulis / Penerjemah :
John Steinbeck / Shita Athiya
Jumlah Halaman :
150 + XX
Tahun Terbit :
September 2011 (Cetakan Pertama)
Penerbit :
Selasar Surabaya Publishing
ISBN :
978-979-25-9413-3
Ini buku Steinbeck kedua yang
saya miliki, tetapi adalah yang pertama saya baca. Karya Steinbeck yang lain
–yang saya beli jauh sebelum buku ini ialah Amarah
atau dalam judul aslinya, The Grapes
of Wrath.
Monday, 2 February 2015
mata kepala
barangkali ada yang ingin dikatakannya
sebenarnya tapi bukan sebenar-benarnya
apakah antara aku dan kau
saling mengenali
sejauh kabut paling putih membungkus
pagi demi pagi
adakah aku dan kau
atau aku saja
atau kau saja
melupa
matahari
di suatu tempat
tak hanya kau
tidak hanya aku
merasakah hangat
dan biar dibicarakannya
sebenarnya yang sebenar-benarnya
Wednesday, 17 December 2014
Bukan Dongeng
: I
Kamar saya sepi
Ada yang terenggut
Oleh malam
Bukan gelapnya
Tapi pagi yang dinanti
Dan siang yang dijelang
Tidak hanya kamu
Hati saya (juga) patah
Sekre KaDe, 11.48
Kamis, 18.12.14
Wednesday, 12 November 2014
Rindu
Barangkali, saya memang harus menulis tentang sesuatu yang terus berlarian dalam benak beberapa waktu terakhir.
Laut.
Ya. Laut.
Saya merindukan laut.
Barangkali, rindu memang tidak hanya milik segala yang tercintai.
Namun, juga untuk semua yang berarti.
Laut.
Laut.
Demi laut. Agaknya saya harus meminta maaf untuk sesuatu yang sudah menari bersama. Namun, justru hilang begitu mudahnya.
November kedua belas, Bapak, dan laut yang tengah ter-rindukan.
Selamat malam.
N.B. Jadi, laut, kapan baiknya kita berjumpa?
THEME BY RUMAH ES