Friday, 7 July 2017

Alasan


Mengapa saya melakukan perjalanan?

Seumur hidup saya kemarin-kemarin, jika ditanya demikian barangkali saya akan kebingungan. Namun, pada akhirnya saya tidak bingung karena tidak ada yang mengajukan pertanyaan tersebut sampai kemarin saya menanyakannya sendiri ke diri saya.

Saya sedang merasa agak lelah dengan rute Solo-Gunungkidul yang mesti saya tempuh sendiri, sewaktu-waktu saya perlu ke kampus atau kos dan pulang ke rumah. Saat di jalan menuju rumah, kemarin, saya tiba-tiba kepikiran tentang faedahnya orang melakukan perjalanan. Perjalanan di sini maksudnya adalah berkegiatan berwisata, berpiknik atau semacamnya. Mungkin karena beberapa hari sebelumnya saya baru saja melakukan perjalanan kecil menemani teman saya, Abishena ke sebagian wilayah Gunungkidul untuk hunting gambar demi project Tugas Akhir-nya.

Teman saya ini mungkin adalah yang paling paham betapa susahnya mengajak saya keluar, menjelajah spot-spot di Gunungkidul yang padahal relatif dekat dengan rumah. Terutama ketika ia mengajak saat akhir pekan. Teman saya ini memang sedang perlu menjelajahi Gunungkidul untuk berburu materi Tugas Akhir. Namun, belum tahu diajak kemana pun biasanya saya sudah menolak. Padahal kesempatan kami bisa sama-sama sedang di rumah, di Gunungkidul adalah saat weekend. Dan kemungkinan besar waktu longgar yang saya miliki juga saat di hari libur itu tapi saya selalu enggan.

Obyek wisata di Gunungkidul itu luar biasa banyaknya. Pantainya saja entah berapa jumlahnya, yang bahkan sampai sekarang masih terus bermunculan pantai-pantai baru. Belum obyek lain yang dari hari ke hari makin bertambah. Seorang teman kuliah ada yang pernah berkata kira-kira begini kepada saya, “Wik, kalau aku orang Gunungkidul, kayaknya tiap minggu bisa ke pantai, dan kemana-mana.”

Sebenarnya, saya yakin jika keengganan saya untuk keluar “melihat dunia luar di sekitar” ini bukan karena alasan mager atau semacamnya. Sebab, pada dasarnya saya ini bisa dibilang gemar menelusuri tempat baru. Saya juga tipikal yang tidak masalah mengunjungi tempat yang itu-itu saja selama saya merasa nyaman dengan tempat tersebut. Saya juga tipikal orang yang suka meluangkan waktu demi melakukan hal-hal yang saya sukai. Jadi, apa masalahnya?

Agaknya, kemarin-kemarin terutama beberapa waktu belakangan hati saya sedang resah. Hati kecil saya mempertanyakan faedahnya orang jalan-jalan. Kenapa saya harus sedemikiannya: merelakan waktu, tenaga, uang buat melakukan perjalanan? Setelah perjalanan yang sedikit atau banyak memerlukan effort itu selesai, apa yang saya dapatkan? Apakah saya cukup hanya dengan membawa pulang koleksi foto yang bisa dijadikan bahan postingan di instagram?

Benar. Masalah saya ialah saya yang kehilangan alasan buat melakukan perjalanan. Konon, katanya kalau kita benar-benar menyukai sesuatu, tidak perlu alasan untuk hal itu. Karena jika alasan itu ada dan suatu saat nanti hilang, akan lenyap pula rasa suka itu. Saya tidak menampik perihal tersebut, tetapi makin hari makin tidak bisa menerima konsep semacam itu begitu saja. Bagaimana pun, pikiran logis saya bilang bahwa konsep itu kurang sehat. Kalau melulu melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas, saya kok berpikir bahwa pikiran saya nanti bakal tumpul, jalan di tempat, dan begitu-begitu saja. Efeknya, saya pasti jadi bosan. Lebih jauh lagi, bisa jadi hanya hampa yang saya rasakan. Sebesar ini, saya baru menyadari  bahwa “suka” saja tidak cukup buat saya. Sebatas “suka” yang tanpa alasan jelas, bagi saya sekarang bahkan malah terlihat seperti tidak benar-benar menyukai hal yang saya “suka” itu.

Kalau terus begini, saya merasa kemungkinan besar akan kehilangan esensi dari apa yang saya lakukan karena dalam melakukan apa-apa, ya, hanya sebatas melakukan semata. Dalam hal ini misalnya, saya pergi jalan-jalan hanya karena kebetulan ada teman yang mengajak dan saya pun ada waktu luang. Saya tidak mau begitu. Mungkin saya terbaca seperti teman yang tidak baik, tetapi sungguh saya perlu alasan kuat kenapa saya harus pergi. Dan alasan itu bukan demi orang lain, tapi pertama-tama mesti demi diri saya sendiri. Bukan egois. Saya hanya ingin melakukan segala sesuatu, apalagi demi teman saya secara tulus. Kalau diri saya sendiri saja hanya terpaksa pergi demi agar teman saya tersebut tidak kecewa, saya berarti pergi dengannya secara tidak tulus. Saya tidak mau membohongi diri sekaligus membohongi teman saya sendiri. Kalau memaksakan diri, pulang-pulang nanti yang saya dapat pasti cuma rasa capek karena, ya jalan-jalan sih, seneng-seneng sih, tapi saya melakukannya secara terpaksa dan tanpa pondasi alasan serta tujuan jelas. Rasanya jadi hanya buang-buang waktu, tenaga, dan uang tentunya.

Jadi, alasan macam apa yang berterima bagi saya? Tujuan perjalanan macam apa yang patut saya capai? Dan apa yang ingin saya dapatkan dari setiap perjalanan yang akan saya lalui?
Pertanyaan-pertanyaan itu agaknya bisa saya jawab dari yang saya pelajari kemarin saat saya akhirnya mengiyakan ajakan Abishena ke beberapa obyek di GK. Ya, ia masih dalam rangka mengerjakan TA.

Ternyata, dari sebuah perjalanan saya belajar mengenal diri saya sendiri lebih dalam. Karena perjalanan kemarin saya jadi tahu kalau hampir dua puluh dua tahun hidup di Gunungkidul, saya bahkan tidak benar-benar kenal dengan kampung saya ini. Saya juga jadi tahu kalo saya ini masih cukup sialan karena menyayangkan obyek air terjun yang tak begitu jauh dari rumah sudah tercemar oleh sampah pengunjung, tapi tidak tergerak buat turun tangan menjumputi sampah yang saya lihat. Bahkan kadang-kadang saya sendiri, di tempat dan kesempatan lain, masih suka malas membawa kembali sampah sendiri. Saya juga jadi paham kalau saya lebih bisa menerima kondisi obyek alam yang tidak menentu, seperti misal air terjun yang debit airnya kebetulan sangat kecil sewaktu saya datang. Daripada, mendapati obyek yang kondisi semua-muanya stabil, namun penuh dengan manusia dengan segala kegaduhannya. Saya ternyata benar-benar jauh lebih menyukai perjalanan yang tenang. Bahagia saya ternyata juga sederhana, melihat pohon dan pepohonan rupanya tidak hanya membahagiakan hati, tapi juga mendamaikan jiwa saya.

Saya ingin melakukan perjalanan-perjalanan lain untuk mengenal diri saya sendiri lebih dalam lagi. Saya ingin belajar lebih banyak lagi dari bumi pertiwi. Dengan terus berjalan, saya ingin lebih menjadi manusia lagi.


Terima kasih, perjalanan.

Sampai bertemu di persimpangan selanjutnya.


GK, 8/7/17

p.s. photo above belong to Abishena B. Argarinjani
      loc. Telaga Jonge, Semanu, Gunungkidul.

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES