Mengapa saya melakukan perjalanan?
Seumur hidup saya kemarin-kemarin, jika ditanya demikian barangkali
saya akan kebingungan. Namun, pada akhirnya saya tidak bingung karena tidak ada
yang mengajukan pertanyaan tersebut sampai kemarin saya menanyakannya sendiri
ke diri saya.
Saya sedang merasa agak lelah dengan rute Solo-Gunungkidul
yang mesti saya tempuh sendiri, sewaktu-waktu saya perlu ke kampus atau kos dan
pulang ke rumah. Saat di jalan menuju rumah, kemarin, saya tiba-tiba kepikiran
tentang faedahnya orang melakukan perjalanan. Perjalanan di sini maksudnya
adalah berkegiatan berwisata, berpiknik atau semacamnya. Mungkin karena
beberapa hari sebelumnya saya baru saja melakukan perjalanan kecil menemani
teman saya, Abishena ke sebagian wilayah Gunungkidul untuk hunting gambar demi project Tugas Akhir-nya.
Teman saya ini mungkin adalah yang paling paham betapa
susahnya mengajak saya keluar, menjelajah spot-spot di Gunungkidul yang padahal
relatif dekat dengan rumah. Terutama ketika ia mengajak saat akhir pekan. Teman
saya ini memang sedang perlu menjelajahi Gunungkidul untuk berburu materi Tugas
Akhir. Namun, belum tahu diajak kemana pun biasanya saya sudah menolak. Padahal
kesempatan kami bisa sama-sama sedang di rumah, di Gunungkidul adalah saat weekend. Dan kemungkinan besar waktu
longgar yang saya miliki juga saat di hari libur itu tapi saya selalu enggan.
Obyek wisata di Gunungkidul itu luar biasa banyaknya.
Pantainya saja entah berapa jumlahnya, yang bahkan sampai sekarang masih terus
bermunculan pantai-pantai baru. Belum obyek lain yang dari hari ke hari makin
bertambah. Seorang teman kuliah ada yang pernah berkata kira-kira begini kepada
saya, “Wik, kalau aku orang Gunungkidul, kayaknya tiap minggu bisa ke pantai,
dan kemana-mana.”
Sebenarnya, saya yakin jika keengganan saya untuk keluar “melihat dunia luar di sekitar” ini bukan karena alasan mager atau semacamnya. Sebab, pada dasarnya saya ini bisa dibilang gemar menelusuri tempat baru. Saya juga tipikal yang tidak masalah mengunjungi tempat yang itu-itu saja selama saya merasa nyaman dengan tempat tersebut. Saya juga tipikal orang yang suka meluangkan waktu demi melakukan hal-hal yang saya sukai. Jadi, apa masalahnya?
Agaknya, kemarin-kemarin terutama beberapa waktu belakangan
hati saya sedang resah. Hati kecil saya mempertanyakan faedahnya orang
jalan-jalan. Kenapa saya harus sedemikiannya: merelakan waktu, tenaga, uang
buat melakukan perjalanan? Setelah perjalanan yang sedikit atau banyak
memerlukan effort itu selesai, apa
yang saya dapatkan? Apakah saya cukup hanya dengan membawa pulang koleksi foto
yang bisa dijadikan bahan postingan di instagram?
Benar. Masalah saya ialah saya yang kehilangan alasan buat
melakukan perjalanan. Konon, katanya kalau kita benar-benar menyukai sesuatu,
tidak perlu alasan untuk hal itu. Karena jika alasan itu ada dan suatu saat
nanti hilang, akan lenyap pula rasa suka itu. Saya tidak menampik perihal
tersebut, tetapi makin hari makin tidak bisa menerima konsep semacam itu begitu
saja. Bagaimana pun, pikiran logis saya bilang bahwa konsep itu kurang sehat.
Kalau melulu melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas, saya kok berpikir bahwa
pikiran saya nanti bakal tumpul, jalan di tempat, dan begitu-begitu saja.
Efeknya, saya pasti jadi bosan. Lebih jauh lagi, bisa jadi hanya hampa yang
saya rasakan. Sebesar ini, saya baru menyadari
bahwa “suka” saja tidak cukup buat saya. Sebatas “suka” yang tanpa alasan
jelas, bagi saya sekarang bahkan malah terlihat seperti tidak benar-benar
menyukai hal yang saya “suka” itu.
Kalau terus begini, saya merasa kemungkinan besar akan
kehilangan esensi dari apa yang saya lakukan karena dalam melakukan apa-apa,
ya, hanya sebatas melakukan semata. Dalam hal ini misalnya, saya pergi
jalan-jalan hanya karena kebetulan ada teman yang mengajak dan saya pun ada
waktu luang. Saya tidak mau begitu. Mungkin saya terbaca seperti teman yang
tidak baik, tetapi sungguh saya perlu alasan kuat kenapa saya harus pergi. Dan
alasan itu bukan demi orang lain, tapi pertama-tama mesti demi diri saya
sendiri. Bukan egois. Saya hanya ingin melakukan segala sesuatu, apalagi demi
teman saya secara tulus. Kalau diri saya sendiri saja hanya terpaksa pergi demi
agar teman saya tersebut tidak kecewa, saya berarti pergi dengannya secara
tidak tulus. Saya tidak mau membohongi diri sekaligus membohongi teman saya
sendiri. Kalau memaksakan diri, pulang-pulang nanti yang saya dapat pasti cuma rasa
capek karena, ya jalan-jalan sih, seneng-seneng sih, tapi saya melakukannya secara
terpaksa dan tanpa pondasi alasan serta tujuan jelas. Rasanya jadi hanya
buang-buang waktu, tenaga, dan uang tentunya.
Jadi, alasan macam apa yang berterima bagi saya? Tujuan
perjalanan macam apa yang patut saya capai? Dan apa yang ingin saya dapatkan
dari setiap perjalanan yang akan saya lalui?
Pertanyaan-pertanyaan itu agaknya bisa saya jawab dari yang
saya pelajari kemarin saat saya akhirnya mengiyakan ajakan Abishena ke beberapa
obyek di GK. Ya, ia masih dalam rangka mengerjakan TA.
Ternyata, dari sebuah perjalanan saya belajar mengenal diri
saya sendiri lebih dalam. Karena perjalanan kemarin saya jadi tahu kalau hampir
dua puluh dua tahun hidup di Gunungkidul, saya bahkan tidak benar-benar kenal
dengan kampung saya ini. Saya juga jadi tahu kalo saya ini masih cukup sialan
karena menyayangkan obyek air terjun yang tak begitu jauh dari rumah sudah
tercemar oleh sampah pengunjung, tapi tidak tergerak buat turun tangan
menjumputi sampah yang saya lihat. Bahkan kadang-kadang saya sendiri, di tempat
dan kesempatan lain, masih suka malas membawa kembali sampah sendiri. Saya juga
jadi paham kalau saya lebih bisa menerima kondisi obyek alam yang tidak
menentu, seperti misal air terjun yang debit airnya kebetulan sangat kecil sewaktu
saya datang. Daripada, mendapati obyek yang kondisi semua-muanya stabil, namun
penuh dengan manusia dengan segala kegaduhannya. Saya ternyata benar-benar jauh
lebih menyukai perjalanan yang tenang. Bahagia saya ternyata juga sederhana,
melihat pohon dan pepohonan rupanya tidak hanya membahagiakan hati, tapi juga
mendamaikan jiwa saya.
Saya ingin melakukan perjalanan-perjalanan lain untuk
mengenal diri saya sendiri lebih dalam lagi. Saya ingin belajar lebih banyak
lagi dari bumi pertiwi. Dengan terus berjalan, saya ingin lebih menjadi manusia
lagi.
Terima kasih, perjalanan.
Sampai bertemu di persimpangan selanjutnya.
GK, 8/7/17
p.s. photo above belong to Abishena B. Argarinjani
loc. Telaga Jonge, Semanu, Gunungkidul.
No comments:
Post a Comment