Sunday, 13 April 2014

Hujan, Kenangan, dan Secangkir Kopi





Hujan

Bau basah menjamah ramah. Hujan turun lagi untuk kesekian kali di penghujan kali ini. Sudah seberapa jauh kita melangkah? Membuat kecipak genangan air dalam setapak masing-masing?
Aku telah melangkah sejauh kepura-puraan mampu setia dalam bayang hitam yang mengekor. Namun, bukankah tidak penting seberapa jauh kaki melangkah. Sebab hati pasti akan dipulangkan oleh sebentuk kenangan yang biasanya disampaikan lewat hujan yang menenangkan.


Kenangan

Seorang kawan bertanya, “Kenapa harus menanti hujan untuk membicarakan kenangan?”
Kau tahu? Aku tidak menunggu hujan mendramatisir keadaan.
Yang lalu memang selalu rumit dijabarkan bila dipaksa menyejajari yang terus melaju. Maka mari berhenti sejenak. Menarik nafas dalam-dalam kala air-air langit menderai. Mendamaikan kemarin.


Secangkir Kopi

Masihkah ingat dengan secangkir kopi yang kita pesan dulu? Kita bukannya lupa untuk menandaskannya. Siapa pula yang ingin melanjutkan separuh kopi yang sudah mendingin?


Hujan, Kenangan dan Secangkir Kopi

Mari berdoa. Secangkir kopi kita kali ini tidak mendingin sebelum habis di sesap. Agar kenangan esok tentang secangkir kopi hangat yang nikmat. Mumpung hujan masih turun –membawa serta malaikat-malaikat surga, dan doa-doa dijabah.


Solo, 20 November 2013




Ilusi




pagi bermula lagi

sunyi serupa kemarin

langit ditelan kabut

sendiri sendirian

adakah yang kau katakan

sementara aku menyesap sepi

mungkin angin membawanya lalu

berlarian dengan gulungan ombak

serta busa-busa yang keburu lenyap

apakah kau mengucap tanya

mengenai aroma sendu

dari secangkir kopi yang diseduh matahari

atau semua keliru

sebab pagi memang tak pernah benar-benar kembali

hari berhenti

ketika kota kita mati


17 Maret 2014




Saturday, 12 April 2014

Seperti Seharusnya



Dari balik jendela kamar yang separuh terbuka, aku dapat menyaksikan hujan mulai berjatuhan. Bau tanah basah mulai menjamah. Angin berhembus kencang tetapi aku belum ingin beranjak dari tempatku duduk yang persis menghadap jendela. Untuk kesekian kali layar ponselku kembali berkedip. Aku tahu itu bukan tanda ada telepon atau pesan masuk.

*

Seperti yang kuduga, semua berlalu begitu cepat hingga segalanya menjadi terasa tiba-tiba. Ujian kelulusan sekolah menengah atas, tes masuk perguruan tinggi, ospek, perkuliahan, ujian semester, dan tiba-tiba saja aku sudah kehilangan jejakmu. Padahal kau tidak berjalan di belakangku pula di depanku. Kau berjalan di sampingku, seharusnya.

Wednesday, 9 April 2014

Kita




kita harus pergi

sejauh angin menerbangkan mimpi yang dilupakan

kemanapun ombak menarik buih dari lautnya

menjauhi langit yang nyaris tua


sebaiknya kita pergi

semoga bulan purnama

udara menyeruak dari terang

hujan pada kemarau panjang


kita pergi

melayur angan mengenai nanti

melupakan kemarin

mengeja kita untuk yang terakhir



di antara hujan, 8 April 2014





Monday, 31 March 2014

Let It Flow (?)


Pernah menyesal?


Sampai detik ini, apa penyesalan terbesar dalam hidupmu?


*

Friday, 21 March 2014

Hanya Perkara Ke(biasa)an



Rabu, 19 Maret 2014 (20:17)

Sejenak saya memejamkan mata dan berharap sekejap kemudian hari Jumat pukul sebelas siang muncul di pelupuk. Mengapa Jumat pukul sebelas? Sebab waktu itu kuliah resmi berakhir untuk minggu ini. Kemudian, tanpa buang waktu lagi saya akan langsung ambil langkah menuju depan kampus. Dengan tidak sabar menunggu bus jalur Surabaya-Yogyakarta yang tentunya melaju ke arah Yogyakarta.

Akan tetapi, kenyataannya tentu saja tidak demikian. Hari ini masih Rabu malam Kamis. Seperti biasa saya masih termangu di kamar kos dengan kipas angin mini yang tidak harus membuat saya mendengar suara gaduh kaki-kaki yang menapak di lantai atas. Di hadapan saya terhampar hampir semua hal yang harus saya urus minggu ini. Revisi makalah makul Teori Sastra, bundel tebal materi makul Morfologi Bahasa Indonesia yang harus segera diringkas, melengkapi catatan makul Pendidikan Pancasila, tugas untuk bahan ujian lisan makul Bahasa Arab, dan hal-hal lain di luar urusan mahasiswa-dosen. Cukup banyak yang harus segera saya selesaikan, namun saya justru membeku. Tidak tergerak apalagi bergerak untuk menyambar. Saya hanya ingin satu; pulang.

Sunday, 9 March 2014

tapi kamu


adakah satu tempat paling sempurna

untuk menyudahi semua yang lari

dari segala yang tidak dimengerti

aku atau kita yang menyerah

mungkin aku mungkin jua kita

bagaimana bisa aku atau kita

jengah dengan embun pada daun

merah senja pada sore

bau basah pada derai pertama

aku yang tidak pernah yakin

namun apakah yang mustahil

mungkin bukan aku atau kita

tapi kamu

WK, 9 Maret 2014
20:46
THEME BY RUMAH ES