Tanggal satu Januari 2020, saya bangun kesiangan. Pagi hari
jam biologis membuat saya terjaga. Namun, hujan deras membuat saya memilih
kembali meringkuk di balik selimut. Libur bekerja dan hujan yang turun adalah
kombinasi yang saya peralat untuk melegitimasi bahwa saya boleh
bermalas-malasan.
Saya lupa akhirnya beranjak bangun pukul berapa, tapi hari
masih hujan. Ada beberapa pesan masuk. Di antaranya menanyakan apakah saya
baik-baik saja. Apakah daerah saya aman dari banjir.
Saya bangun tidur dengan sehat dan selain derai hujan, tidak
ada kegaduhan apa pun di sekitar saya. Maka, dengan santai saya mengabari bahwa
semua baik-baik saja. Kosan saya aman dari banjir.
Waktu berlalu menjelang siang, saya membuka twitter. Di linimasa berseliweran berita tentang titik-titik banjir yang banyak terjadi di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Rasa-rasanya saya baru agak memahami situasi genting yang terjadi. Namun, karena di sekitar saya aman jadi ya tetap saja. Saya masih merasa cukup santai.
Saya sedikit berbincang dengan tetangga kamar, teman KKN
saya di UNS dulu yang kini satu kosan. Katanya, wilayah Kebon Jeruk aman. Kalau saya tidak salah dengar dan ingat, yang terendam hanya
di daerah perumahan Green Garden yang terendam. Saya manggut-manggut. Kami pun sarapan sekaligus makan siang
dengan mi instan berlaukkan telur asin.
Sisa siang hari itu, saya tidak menonton atau membaca
berita. Hanya kadang-kadang mengecek informasi di twitter.
Sorenya saya merasa mulai lapar. Saya ajak teman saya makan.
Kami mempertimbangkan apakah akan memesan makanan melalui transportasi daring
atau pergi keluar. Tidak lama, kami sepakat untuk memilih opsi kedua.
Kami pergi berboncengan mengendarai sepeda motor dengan
pikiran wilayah yang pagi tadi kebanjiran pasti sudah surut.
Jalanan cukup lengang, yang biasanya macet lancar jaya. Kami
melaju santai, sementara di jalur sebelah yang merupakan jalan tol, salah satu
lajurnya macet panjang.
Motor terus melaju sampai akhirnya kami harus berbelok
karena jalan di depan tergenang air sebetis tingginya.
Setelah agak kebingungan dan beberapa kali mengecek peta di
ponsel, akhirnya kami pun hampir mencapai tujuan. Tinggal beberapa meter di
depan, tapi lagi-lagi jalanan tergenang.
Kendaraan bermotor lainnya banyak berjubel mengantre hendak naik ke trotoar. Karena sama berisikonya, teman saya memberanikan diri menerjang genangan. Mesin motor meraung tidak lazim, tapi teman saya berusaha tenang dan mengatakan “itu cuma kemasukan air”.
Kendaraan bermotor lainnya banyak berjubel mengantre hendak naik ke trotoar. Karena sama berisikonya, teman saya memberanikan diri menerjang genangan. Mesin motor meraung tidak lazim, tapi teman saya berusaha tenang dan mengatakan “itu cuma kemasukan air”.
“Gapapa ini? Bagian apanya yang kemasukan air?” Teman saya mengisyaratkan
kalau semua akan aman-aman saja.
Meski tidak terlalu panik, tapi jujur saya
agak tidak tenang juga. Namun, berkat teman saya, perempuan yang di mata saya
teramat tangguh itu, saya jadi bisa lebih santai. Nah, belakangan sewaktu
berjalan di parkiran motor saat hendak pulang, baru saya tahu kalau tadi
sewaktu menerjang genangan air dan suara motor berubah dia keder juga. Namun,
karena mungkin saya terlihat panik, dia berusaha tetap tenang dan berusaha
menenangkan.
“Tenang itu kuncinya,” katanya dengan yakin. Cerita teman
saya, katanya ia sering dihadapkan pada situasi yang menuntutnya buat berani
dan kalau boleh saya bilang: tangguh. Saat pergi dengan teman dan temannya
ketakutan, maka ia akan menenangkan dan terus meyakinkan “enggak apa-apa, ayo
gapapa.”
Sewaktu di perjalanan pulang dari makan, hari sudah beranjak
malam. Di tengah perjalanan kami harus memutar balik karena ada jalan yang
tidak bisa diakses. Saya berusaha tidak panik atau takut.
“Tenang-tenang, nanti
juga ada jalannya.”
Perjalanan pulang lancar. Saya sangat bersyukur. Sewaktu
sudah di daerah yang kami yakin jalannya aman, saya bertanya pada teman saya, “kamu
enggak nyesel kita pakai segala pergi makan keluar ini tadi?”
“Enggak sih, ya, buat mengasah kita aja gimana kalau
menghadapi masalah di jalan.” Saya senang sekali mendengarnya.
Kalau tidak begini, mungkin saya akan telat memahami kalau
bencana banjir itu benar-benar nyata dan bisa begitu gampangnya terjadi di wilayah
Jakarta. Di wilayah tempat saya hidup saat ini.
Berita tentang banjir terlalu sering saya dengar sejak saya
mulai bisa mengingat. Namun, di kampung saya tidak ada banjir. Di kampung cuma
kadang-kadang air kali meluap sampai ke jalan, dan itu paling banter terjadi setahun
sekali saat musim penghujan. Belum pernah air begitu parahnya menimpa rumah
saya.
Efek paling besar yang pernah saya rasakan tentang air yang meluber dan
menggenang adalah mencari akses yang mungkin untuk dilalui supaya bisa sampai
ke sekolah. Jadi kalau saya merasa enggak pernah paham betapa banjir atau
genangan air di jalanan itu adalah masalah krusial, itulah dalih yang bisa saya
pikirkan.
Beberapa waktu setelah sampai di kos, hujan kembali turun.
Cukup deras dan terkadang terdengar suara petir yang menggelegar.
Kebetulan saya baru saja beres-beres kamar. Barang-barang
yang ada di lantai kini sudah cukup minimal. Saya pikir, tidak ada salahnya juga berjaga-jaga.
Semoga tetap aman dan besok pagi bisa berangkat kerja
seperti biasa.
Kebon Jeruk,
010120
23.55



No comments:
Post a Comment