Monday, 6 January 2020

HOSPITAL SHIP (2017)

source: soompi


Hospital Ship
agaknya menjadi k-drama kedua tentang dunia medis yang saya tonton. K-drama pertama yang bahkan chemistry-nya masih cukup saya ingat sampai saat ini adalah The Doctors. Saya begitu menyukai sosok Kim Rae-won dan Park Shin-hye di sana. Meski samar, tapi kisah k-drama satu itu kadang masih terngiang.

Sewaktu melihat poster Hospital Ship, hal pertama yang saya ingat adalah The Doctors.  Bisa dibilang, saya tertarik menonton Hospital Ship karena The Doctors cukup membekas dalam benak saya.


Hospital Ship terdiri dari 40 episode yang pendek-pendek. Saya cukup menikmati. Hanya saja, seperti kebanyakan tontonan lain, semenarik apa pun, tetap saja ada fase “kelelahan” yang saya alami. Di Hospital Ship saya mulai merasa lelah di sekitar episode 30-an.

Saya merasa konflik ceritanya agak berlebihan. Mentang-mentang topiknya medis dan karakter utamanya dokter, tapi tidak "semua-mua-nya" perlu sakit parah dan ditangani dengan serius dong.
Bahkan, menuju episode penghujung, tokoh utamanya yang dokter ahli bedah handal, yakni Mbak Song Eun Jae yang diperankan oleh Ha Ji-won juga sakit parah.

Sebelum itu, dokter spesialis penyakit dalam, Mas Kwak Hyun yang diperankan oleh Kang Min-hyuk juga sempat terluka parah dan perlu dioperasi. Nah,Mas Hyun ini adalah kekasih Mbak Song Eun Jae.

Enggak cuma mereka yang sempat sakit parah, tentunya ada pasien regular yang aneh-aneh sakitnya. Beberapa pasien yang “ada-ada aja sakitnya” bahkan merupakan sosok penting yang berarti atau terikat dengan karakter utama dan karakter pendukung yang menonjol.

Iya sih, sebenarnya itu suka-suka penulis skenarionya. Beberapa k-drama menghadirkan konflik sebagai media menyelesaikan persoalan yang ada di diri tokoh. Konfliklah yang menggerakkan jalan cerita. Namun, bagi saya konflik yang dimunculkan di Hospital Ship kebanyakan masih terlalu klasik. Penyelesaiannya pun demikian.

Kalau boleh jujur, saya justru agak frustasi dengan kesulitan yang teramat sangat, yang justru berhasil menjumpai jalan keluar. Konflik yang begitu pelik meski perlahan, tapi bisa diselesaikan. Sakit yang demikian parah, bisa disembuhkan. Nyawa yang sudah sangat terancam, bisa diselamatkan. It was too good to be true.

Memang sudah banyak yang bilang sih kalau yang indah-indah itu cuma ada di drama korea. Namun, poinnya bukan di situ. Ketika bicara cerita, saya berharap kita semua sudah selesai dengan perdebatan basi soal drama korea yang bla…bla…bla.

Entah itu drama korea atau bukan, saya punya ketertarikan dengan kisah yang manusiawi. Standar manusiawi menurut saya tentu saja, yang bisa jadi berbeda bagi orang lain dan itu tidak masalah sama sekali.

Kenyataannya, yang indah-indah itulah yang disukai kebanyakan orang. Happy ending selalu jadi dambaan. Saya jadi teringat dengan k-drama Memories of the Alhambra yang rating-nya bagus. K-drama ini menurut saya juga bagus, dari segi kisah, visual, kualitas akting pemain, dan printilan lainnya. Namun, banyak dihujat habis-habisan karena endingnya yang bagi kebanyakan orang kentang dan bangsat banget. Kenapa begitu? Sepele sih. Ya, karena dianggap tidak berakhir bahagia.

Sepenangkapan saya, ending k-drama itu memang nggantung dan kalau opini saya pribadi, itu justru lebih bisa saya terima, lebih manusiawi. Setengah mati saya suka sekali sama Yoo Jin-woo yang diperankan oleh Hyun Bin. Saya juga antek pendukung Yoo Jin-woo dan Jung Hee-joo (Park Shin-hye) bersatu di sana. Namun, bagi saya kalau mendadak semudah itu mereka dipersatukan kembali di bagian akhir cerita, kok klise sekali. 

Meski tidak digambarkan secara gamblang, saya meyakini kalau Memories of the Alhambra berakhir “bahagia” kok. Bahagia dengan caranya sendiri. Bahagia yang elegan, tidak muluk-muluk. Bagi saya itu lebih realistis dan berterima. Kenapa? Soalnya Jung Hee-joo tersenyum di akhir kisah. Sorot matanya sedih tapi menyiratkan harapan, dengan masih memiliki harapan manusia bisa merasa hidup dan memiliki masa depan. Itu jauh lebih penting daripada mendadak dihadirkan orang yang dicintai terus berpelukan, berciuman, kemudian tamat. Kalau begitu, lagi-lagi too good to be true. Tidak manusiawi, jadinya malah memuakkan. Saya suka dan bisa menerima, tapi jauh lebih banyak yang tidak suka sih.

Mungkin ada yang berpendapat, "hidup sudah susah kenapa nonton drama ending-nya juga blangsak sih." Happy ending akan memuaskan banyak orang, sebaliknya sad ending. Nah, apalagi membuat akhir kisah yang seolah seperti "nggak-jelas-ending"? Bisa dibayangkan sendiri ya risikonya.

Kembali ke Hospital Ship, bukannya enggak suka, toh kenyataannya saya mewek juga di beberapa bagian. Artinya, mau bagaimana pun juga, memang ada yang begitu mengena bagi saya dan itu bagus. Saya jadi punya alasan untuk terus menonton sampai akhir. Saya jadi penasaran poin keseluruhan yang ingin disampaikan, atau setidaknya yang bisa saya tangkap itu apa sih.

Dari Hospital Ship, ada beberapa poin bagus yang saya catat.

Ada pertanyaan di antara Song Eun Jae dan Kwak Hyun, kira-kira begini “Apakah kamu tertawa karena lucu atau karena terlalu berat untukmu?”

Pertanyaan di antara mereka itu mengingatkan saya tentang manusia yang seringkali terlihat bereaksi seperti yang tidak seharusnya. Bisa jadi karena berpura-pura, bisa juga karena tidak bisa.

Saya juga jadi teringat dengan Song Eun Jae di awal-awal episode. Ibunya meninggal dunia karena sakit, tanpa Song Eun Jae sempat menolongnya. Sebagai anak, dokter Song tentu sangat sedih. Penyesalannya menyasi dadanya. Namun, karena saking sedih dan menyesalnya, ia tidak sampai hati menangis. Bukan karena tidak bisa, ia merasa tidak berhak menangis bahkan saat ibunya dimakamkan. Bibi dokter Song sampai–sampai sangat kecewa karena keponakannya tidak menangis. Di pikirannya mungkin seperti ini: anak macam apa yang tidak menangis saat ibunya meninggal dunia bahkan tanpa sempat merawatnya?

Momen itu bikin saya engap. Kemudian waktu berlalu, saat akhirnya Song Eun Jae bisa menangis “untuk ibunya”, saya juga ikutan megap-megap.

Ada lagi ujaran-ujaran menarik yang saya catat. Ketika itu, dokter Song sedang berkesah. “Jika tidak berharap apa-apa, kita tidak takut apa pun.”

“Banyak yang kukhawatirkan dan kutakutkan. Aku berusaha melenyapkannya dengan pura-pura bahagia. Aku berusaha tertawa sesering mungkin. Tapi, tampaknya itu tidak efektif bagiku.”

Lalu, dokter Hyun menyahut, “Itu juga tidak efektif bagiku. Kamu menyadari kesedihan dari tawaku. Kata-katamu yang menenangkan jauh lebih efektif.

Ah, aku lega bisa langsung menyadarinya. Tapi jangan lakukan itu lagi. Beri tahu aku saat kamu sakit. Mintalah bantuan dalam situasi sulit. Menangislah di kala kamu sedih. Lepaskan saja.

Hari ini aku menyadarinya, tapi berikutnya mungkin aku tidak menyadarinya.

Mulai sekarang, utarakanlah semuanya. Apa pun itu jangan dilawan sendirian. Itu kebiasaanmu yang sangat buruk. Berjanjilah. Bisakah kamu berjanji?”

Dokter Song mengangguk.

“Bagus,” kata dokter Hyun.

Lalu mereka saling memeluk. Saling menggenggam sembari bersama-sama melihat laut.

Dialog keduanya tersebut rasanya begitu menghangatkan. Bukan semata-mata karena mereka sepasang kekasih, tapi karena mereka sepasang kekasih yang berusaha mengutarakan perasaan dengan jujur, saling terbuka, dan bersepakat ingin saling memperbaiki. Mereka mengakui, menerima, dan mengantisipasi kelemahan yang mereka miliki.

Terakhir, di Hospital Ship ada pernyataan di dalam sebuah perdebatan yang perlu saya garis bawahi.

“Ada orang yang tidak mampu walau telah membanting tulang seumur hidup.”

“Jika membanting tulang, mereka tidak akan miskin.”

Saya sepakat dengan pernyataan pertama. No offense.


Kebon Jeruk,
060120
19.47

No comments:

Post a Comment

THEME BY RUMAH ES