Wednesday, 9 April 2014

Kita




kita harus pergi

sejauh angin menerbangkan mimpi yang dilupakan

kemanapun ombak menarik buih dari lautnya

menjauhi langit yang nyaris tua


sebaiknya kita pergi

semoga bulan purnama

udara menyeruak dari terang

hujan pada kemarau panjang


kita pergi

melayur angan mengenai nanti

melupakan kemarin

mengeja kita untuk yang terakhir



di antara hujan, 8 April 2014





Monday, 31 March 2014

Let It Flow (?)


Pernah menyesal?


Sampai detik ini, apa penyesalan terbesar dalam hidupmu?


*

Friday, 21 March 2014

Hanya Perkara Ke(biasa)an



Rabu, 19 Maret 2014 (20:17)

Sejenak saya memejamkan mata dan berharap sekejap kemudian hari Jumat pukul sebelas siang muncul di pelupuk. Mengapa Jumat pukul sebelas? Sebab waktu itu kuliah resmi berakhir untuk minggu ini. Kemudian, tanpa buang waktu lagi saya akan langsung ambil langkah menuju depan kampus. Dengan tidak sabar menunggu bus jalur Surabaya-Yogyakarta yang tentunya melaju ke arah Yogyakarta.

Akan tetapi, kenyataannya tentu saja tidak demikian. Hari ini masih Rabu malam Kamis. Seperti biasa saya masih termangu di kamar kos dengan kipas angin mini yang tidak harus membuat saya mendengar suara gaduh kaki-kaki yang menapak di lantai atas. Di hadapan saya terhampar hampir semua hal yang harus saya urus minggu ini. Revisi makalah makul Teori Sastra, bundel tebal materi makul Morfologi Bahasa Indonesia yang harus segera diringkas, melengkapi catatan makul Pendidikan Pancasila, tugas untuk bahan ujian lisan makul Bahasa Arab, dan hal-hal lain di luar urusan mahasiswa-dosen. Cukup banyak yang harus segera saya selesaikan, namun saya justru membeku. Tidak tergerak apalagi bergerak untuk menyambar. Saya hanya ingin satu; pulang.

Sunday, 9 March 2014

tapi kamu


adakah satu tempat paling sempurna

untuk menyudahi semua yang lari

dari segala yang tidak dimengerti

aku atau kita yang menyerah

mungkin aku mungkin jua kita

bagaimana bisa aku atau kita

jengah dengan embun pada daun

merah senja pada sore

bau basah pada derai pertama

aku yang tidak pernah yakin

namun apakah yang mustahil

mungkin bukan aku atau kita

tapi kamu

WK, 9 Maret 2014
20:46

Friday, 28 February 2014

Bukankah Aku


mari menjamu sore

dengan hujan deras di sebelah sana

yang mengirimkan desau risau

angin paling dingin

kesukaan kita

sementara malam diam-diam mengintip

dari balik kelabu

dan kemanakah kau akan pergi?

pulang sebelum hari telah benar petang?

tapi,

bukankah aku ini adalah rumah?


Solo, 27 Februari 2014

Friday, 14 February 2014

Perbedaan antara Durkheim dan Weber (?)

Minggu pertama kuliah, Selasa lalu, akhirnya saya ketemu salah satu dosen baru di semester dua ini. Sebetulnya dalam jadwal ada tiga mata kuliah hari itu, yaitu:

Pendidikan Pancasila
Teori Sastra
Bahasa Belanda

yang kemudian menjadi

Pendidikan Pancasila
Teori Sastra
Bahasa Belanda

Yap, yang dihadiri dosen hanya satu, yaitu mata kuliah Teori Sastra.

Mata kuliah ini diampu oleh dua dosen; yang satu sudah mengajar di semester satu dan yang satunya baru bertemu di semester ini. Untuk pertemuan pertama, keduanya hadir namun yang mengajar adalah dosen baru, dosen satunya hanya mendampingi dari kursi bagian belakang.

Di bagian awal, seperti biasa setelah membicarakan kontrak perkuliahan, buku referensi, dan teman-temannya itu, dosen mulai masuk ke materi kuliah yang diawali dengan pertanyaan apa itu sastra?

Skip, karena saya nggak mau ceramah tentang pengertian sastra. Hehe..

Singkat kata, seperti judul yang saya tulis di atas, saya "dipertemukan kembali" dengan nama-nama yang tentu saja sudah tidak asing lagi di telinga saya. Ya, Durkheim dan Weber.

Slide dengan judul Sastra dan Struktur Sosial mengantarkan saya untuk kembali mengingat dua tokoh itu. Dalam pembahasan bahasa ke dunia sosial dalam slide tersebut tertulis beberapa kalimat yang salah satunya kira-kira begini; bahasa sebagai indikator dari keberadaan realitas sosial yang terlepas dari individu (Durkheim). Saat pembahasan dosen tersebut sampai pada kalimat ini, tiba-tiba beliau bertanya, "Tau kan bedanya Durkheim sama Weber?"

Saturday, 8 February 2014

People Change



Jujur, sebenarnya saya tidak terlalu suka melihat konser. Namun, saya punya cita-cita menonton konser. Lho?

Hehe. Iya, konsernya Sheila On 7, Payung Teduh, Mocca, atau MYMP. Pokoknya yang semacam itu dengan catatan konsernya indoor. Yap, indoor karena entah sejak kapan saya jadi suka parno kalo berada di kerumunan banyak orang di tempat terbuka yang manusia-manusianya tidak terkontrol dan bisa semaunya sendiri.
THEME BY RUMAH ES