Saya senang atau dapat dibilang "lega" sekali saat menemukan tulisan Bernard Batubara ini di bisikanbusuk.com. Pertama kali 'nyasar' ke web milik seorang penulis yang sudah pernah saya baca salah satu karya novelnya, saya tidak bisa langsung melewati sebuah artikel berjudul Ada Masanya Kau Harus Berhenti Membaca begitu saja. Artikel itu kemudian saya baca sampai tamat. Setelah selesai membaca, saya seolah blank, speechless, atau apalah. Intinya perasan semacam itulah yang saya rasakan untuk beberapa saat kemudian.
Tuesday, 14 January 2014
Memang Ada Masanya Saya Harus Berhenti Membaca
Saya senang atau dapat dibilang "lega" sekali saat menemukan tulisan Bernard Batubara ini di bisikanbusuk.com. Pertama kali 'nyasar' ke web milik seorang penulis yang sudah pernah saya baca salah satu karya novelnya, saya tidak bisa langsung melewati sebuah artikel berjudul Ada Masanya Kau Harus Berhenti Membaca begitu saja. Artikel itu kemudian saya baca sampai tamat. Setelah selesai membaca, saya seolah blank, speechless, atau apalah. Intinya perasan semacam itulah yang saya rasakan untuk beberapa saat kemudian.
Monday, 13 January 2014
j a n u a r i
antara aku dan air
antara air dan aku
kita sama kami
kami sama kita
kita sama sama
kami sama sama
sama sama kita
sama sama kami
sama kita sama
sama kami sama
siap tidak siap
siap siap tidak
tidak siap siap
13 Januari 2014
Sunday, 12 January 2014
Pilihan*
Hidup
adalah pilihan. Setidaknya begitulah yang sering aku dengar dari banyak orang.
Kita bebas menentukan pilihan masing-masing. Memvonis bahwa hidup ini indah, menyenangkan
atau hidup ini kejam, menyedihkan. Terserah. Sebab kita sendiri yang menjalani
dengan segenap risiko yang mengikuti.
Wednesday, 1 January 2014
Langit
Kau tau
Sudah berulang kali kucoba memetakan
Mencari celah untuk kita meloloskan diri
Dari satu tempat yang tak kunjung selesai kupetakan
Waktu telah serupa kenangan duka
Masa menjelma bangku kayu yang keropos
Lalu kemana pergimu menjamu raguku
Ah ya, mungkin memang benar
Celah itu hanya dongeng tua yang merenda asa asa yang terputus dari tali takdirnya.
Solo . 31 . 12 . 13
20:53
Wednesday, 25 December 2013
Ibuk dan Karya Sastra
Tadi siang saya lagi mikir tentang karya apa yang kira-kira bakal saya angkat untuk tugas analisi karya sastra pop, saat ibuk yang sedang duduk-duduk di depan rak buku di kamar saya berkata (versi Indonesianya begini) "Aku baca ini (Sitti Nurbaya-Marah Rusli) nggak selesai-selesai e."
"Lha nggak tok baca e buk," jawabku asal.
"Tak baca weh, tapi bikin pedes mata. Dan kosakatanya...wah.." Kemudian ibuk cerita kalau setelah baca sekitar sepuluh lembar dia harus istirahat dulu. Buku Sitti Nurbaya (yang bahkan belum sempat saya baca) itu ditutup dulu dan ditinggal melakukan aktivitas yang lain. Setelah ada waktu atau sudah merasa siap baru ibuk lanjutin lagi baca Sitti Nurbaya itu.
Saya tertawa. Bukan karena apa-apa, tapi biasanya ibuk memang bisa cepat kalau urusan baca dan memang termasuk omnivora alias pemakan segala. Ada buku fiksi (kecuali komik), nonfiksi, sampai majalah Bobo juga oke-oke saja. Bahkan biasanya saya belum baca aja ibuk udah khatam duluan. Kemudian dengan mengutip kalimat dosen -yang kebetulan adalah dosen yang memberi tugas analisis karya sastra pop- saya pun menjawab, "Itu namanya karya sastra serius. Ya memang begitu buk, berat di otak. Baca sastra serius memang bikin nyut-nyutan."
Ibuk manggut-manggut. "Terus aku baca apa lagi ya?" Sepertinya ibuk masih enggan buat lanjut baca Sitti Nurbaya. Entah kenapa. Padahal dulu sebelum baca Sitti Nurbaya ibu berhasil merampungkan bukunya Ahmad Tohari yang Lintang Kemukus Dini Hari, meskipun memang itu buku lebih tipis bahkan kalah jauh dari Sitti Nurbaya. "Lapis Lazuli yang kayak apa ya? Sudah pernah tak baca belum sih?" tanya ibuk sembari menyelipkan sebuah buku ke dalam rak. Buku yang jumlah halamannya sekitar 370an yang baru saja ia rampungkan setelah dua hari.
"Fantasi buk, Fenny Wong, yang nulis Fleur juga."
"Oh iya, sudah baca aku."
Tak lama kemudian, saya keluar kamar dan mandi. Selesai mandi, saat hendak menjemur handuk di samping rumah, ibuk tiba-tiba menodong saya dengan pertanyaan, "Artinya katastrofa itu apa?"
He? "Kata-kata di mana memangnya buk?"
"Di puisi."
"Puisi di mana?"
"Majalahmu, Horison."
Oh, dari Sitti Nurbaya, untuk sementara ibuk move on ke majalah sastra Horison. Pelarian yang, hm kurang tepat itu buk. Hoho.
Saya mengedikkan bahu. Saya juga nggak ngerti itu buk. Duh...
--Untung ibuk tidak bilang, "Loh, kamu kan kuliah di sastra to Nduk?--
Di bawah langit yang seharian gelap dan hujan,
Rabu, 25 Desember 2013
Friday, 6 December 2013
Garis
Kita memang tidak akan pernah berjalan di jalur ya sama selamanya. Sebab kita memang tidak berpijak pada sebuah lingkaran.
Di depan akan selalu ada persimpangan. Dan bukankah kita tidak berjalan mundur?
Aku tidak pernah ingin menahan waktu biar menyimpan masa-masa yang menyenangkan untuk dikenang. Sampai penuh. Hingga tidak ada ruang untuk kisah tentang kenestapaan.
Memang tidak ada yang akan berhenti meski sejenak. Sekalipun aku benar-benar tak ingin bergerak.
Saat bertemu dan bisa menghabiskan waktu denganmu selamanya adalah bahagia, maka bahagia berarti egois.
Kemudian kita sengaja berusaha melupakan apa yang sebenarnya tak tersangkal.
Seperti putri cantik yang pada akhirnya pasti berjodoh dengan pangeran tampan. Setiap pertemuan pun telah digariskan menemui kekasih sejatinya bernama perpisahan.
Pada akhirnya kurelakan pertemuan dan berharap perpisahan tidak pernah mendua dengan melupakan atau dilupakan.
Enam Dua Belas Tiga Belas
Saturday, 30 November 2013
Alasan
: als
Kamu pasti tahu.
Aku selalu punya alasan untuk berhenti. Berdiam diri meramu kepura-puraan.
Kamu pasti tahu.
Kalau aku tidak buta jika keputusasaan tidak pernah keberatan menampung jiwa-jiwa kerdil.
Kamu pasti tahu.
Pada akhirnya apa yang akan kulakukan kemudian.
Kamu pasti tahu.
Kenapa kamu begitu penting hingga aku merasa perlu merangkai huruf-huruf yang kau ikuti sejak awal tadi.
THEME BY RUMAH ES
