Wednesday, 25 December 2013

Ibuk dan Karya Sastra

Tadi siang saya lagi mikir tentang karya apa yang kira-kira bakal saya angkat untuk tugas analisi karya sastra pop, saat ibuk yang sedang duduk-duduk di depan rak buku di kamar saya berkata (versi Indonesianya begini) "Aku baca ini (Sitti Nurbaya-Marah Rusli) nggak selesai-selesai e."

"Lha nggak tok baca e buk," jawabku asal.

"Tak baca weh, tapi bikin pedes mata. Dan kosakatanya...wah.." Kemudian ibuk cerita kalau setelah baca sekitar sepuluh lembar dia harus istirahat dulu. Buku Sitti Nurbaya (yang bahkan belum sempat saya baca) itu ditutup dulu dan ditinggal melakukan aktivitas yang lain. Setelah ada waktu atau sudah merasa siap baru ibuk lanjutin lagi baca Sitti Nurbaya itu.

  Saya tertawa. Bukan karena apa-apa, tapi biasanya ibuk memang bisa cepat kalau urusan baca dan memang termasuk omnivora alias pemakan segala. Ada buku fiksi (kecuali komik), nonfiksi, sampai majalah Bobo juga oke-oke saja. Bahkan biasanya saya belum baca aja ibuk udah khatam duluan. Kemudian dengan mengutip kalimat dosen -yang kebetulan adalah dosen yang memberi tugas analisis karya sastra pop- saya pun menjawab, "Itu namanya karya sastra serius. Ya memang begitu buk, berat di otak. Baca sastra serius memang bikin nyut-nyutan."

  Ibuk manggut-manggut. "Terus aku baca apa lagi ya?" Sepertinya ibuk masih enggan buat lanjut baca Sitti Nurbaya. Entah kenapa. Padahal dulu sebelum baca Sitti Nurbaya ibu berhasil merampungkan bukunya Ahmad Tohari yang Lintang Kemukus Dini Hari, meskipun memang itu buku lebih tipis bahkan kalah jauh dari Sitti Nurbaya. "Lapis Lazuli yang kayak apa ya? Sudah pernah tak baca belum sih?" tanya ibuk sembari menyelipkan sebuah buku ke dalam rak. Buku yang jumlah halamannya sekitar 370an yang baru saja ia rampungkan setelah dua hari.

"Fantasi buk, Fenny Wong, yang nulis Fleur juga."

"Oh iya, sudah baca aku."

Tak lama kemudian, saya keluar kamar dan mandi. Selesai mandi, saat hendak menjemur handuk di samping rumah, ibuk tiba-tiba menodong saya dengan pertanyaan, "Artinya katastrofa itu apa?"

He? "Kata-kata di mana memangnya buk?"

"Di puisi."

"Puisi di mana?"

"Majalahmu, Horison."

Oh, dari Sitti Nurbaya, untuk sementara ibuk move on ke majalah sastra Horison. Pelarian yang, hm kurang tepat itu buk. Hoho. 

Saya mengedikkan bahu. Saya juga nggak ngerti itu buk. Duh...

--Untung ibuk tidak bilang, "Loh, kamu kan kuliah di sastra to Nduk?--



Di bawah langit yang seharian gelap dan hujan,
Rabu, 25 Desember 2013

Friday, 6 December 2013

Garis

Kita memang tidak akan pernah berjalan di jalur ya sama selamanya. Sebab kita memang tidak berpijak pada sebuah lingkaran.


Di depan akan selalu ada persimpangan. Dan bukankah kita tidak berjalan mundur?


Aku tidak pernah ingin menahan waktu biar menyimpan masa-masa yang menyenangkan untuk dikenang. Sampai penuh. Hingga tidak ada ruang untuk kisah tentang kenestapaan.


Memang tidak ada yang akan berhenti meski sejenak. Sekalipun aku benar-benar tak ingin bergerak.


Saat bertemu dan bisa menghabiskan waktu denganmu selamanya adalah bahagia, maka bahagia berarti egois.


Kemudian kita sengaja berusaha melupakan apa yang sebenarnya tak tersangkal.


Seperti putri cantik yang pada akhirnya pasti berjodoh dengan pangeran tampan. Setiap pertemuan pun telah digariskan menemui kekasih sejatinya bernama perpisahan.


Pada akhirnya kurelakan pertemuan dan berharap perpisahan tidak pernah mendua dengan melupakan atau dilupakan.



Enam Dua Belas Tiga Belas

Saturday, 30 November 2013

Alasan


: als

Kamu pasti tahu.
Aku selalu punya alasan untuk berhenti. Berdiam diri meramu kepura-puraan.

Kamu pasti tahu.
Kalau aku tidak buta jika keputusasaan tidak pernah keberatan menampung jiwa-jiwa kerdil.

Kamu pasti tahu.
Pada akhirnya apa yang akan kulakukan kemudian.

Kamu pasti tahu.
Kenapa kamu begitu penting hingga aku merasa perlu merangkai huruf-huruf yang kau ikuti sejak awal tadi.




Thursday, 17 October 2013

Mengejar Pantai #1 : Matahari Terbit di Krakal

Pantai (lagi). Yuhuu...

Sebenarnya saya biasa saja sama yang namanya pantai. Bahkan cenderung malas kalau ke tempat yang satu ini. Apalagi kalau kesininya pas lagi hari libur. huft -_- Tapi, nggak tau kenapa, tahun ini malah sering banget ke pantai, dan biasanya ndadak.

Sekeluarga, kalau urusan pantai ibuk fans nomer satu. Dan Januari lalu akhirnya kesampaian juga ngajak ngeliat sunrise sekeluarga walaupun realisasinya terpaksa cuma bisa berempat karena 'saudara tua' nggak ikut.

Awal ide cuma dari ngobrol-ngobrol random di rumah pada suatu sore yang biasa. Antara saya (nggak terlalu nanggepin serius) - ibuk (semangat banget maksa ngajak ke pantai) - bapak (pihak fleksibel/ngikut/ayok ajah) - adik (ini dia nih, tim suksesnya ibuk). Dua hari kemudian (saya lupa hari apa, yang jelas sekolahan libur) malam hari, padahal masih diantara jadi-nggak-jadi-nggak ibuk udah sibuk masak ikan buat bekal kalo besok beneran jadi ke pantai. Konsepnya kayak piknik gitu.

Pagi harinya, pagi-pagi banget malah, dibangunin. "Ayo eh, jadi ke pantai nggak?"

Singkat cerita, intinya kami jadi ke pantai. Lupa jam berapa dari rumah, jelasnya sebelum subuh. Saya dan adik cowok saya tentu saja nggak mandi.

Oke, bekal siap, ganti siap, berangkat.

Pas dijalan galau, diantara pantai-pantai di Gunungkidul yang saya nggak tau berapa jumlah pastinya, yang jelas ada banyak pantai di sini, saya nggak ngerti mana pantai yang bisa dapet sunrise. Berhubung malu bertanya sesat dijalan, ya sudah, kami pun mencegat orang-orang yang beberapa baru pulang dari masjid. Setelah banyak nanya, dan yang ditanya kebanyakan juga pada nggak tau juga #heran bertemulah kami dengan ibu penjual jajanan pagi (arem-arem, risoles, dll).

"Krakal bisa, Pak!"



And here's it, Krakal Beach, Gunungkidul.


Di bukit yang ada di Krakal.

sholat di bukit Krakal
Ibuk sama adik -harusnya saya yang digandeng-







di gubuk pinggir pantai itu mungkin jaket adik saya tertinggal -sampai saat ini masih misteri-

ibuk-adik-saya-bapak dengan timer kamera yang nggak jelas

Di Krakal kami turun dari bukit lalu sarapan pake ikan entah jenis apa, intinya ikannya enak. Top deh kalo masakannya ibuk. Setelah dari bukit, turun makan di pinggir pantai, sedikit main air, kami nggak langsung pulang. Belum selesai acara piknik dadakan itu. Belum. Selain ke Krakal, kami juga ke beberapa pantai lain. Sambung di tulisan berikutnya ya.

Mengejar Pantai #2, cooming soon. ^^

Karena Kamu Malam


Karena kamu malam
yang hidup dalam gelap
yang cintai gulita

Karena kamu malam
yang bernafas dalam sunyi
yang senangi sepi

Karena kamu malam
yang hidup sendiri
yang tak ingin matahari

Karena kamu malam
yang tidak memberiku pilihan
kecuali pulang

Surakarta, 9 September 2013

Saturday, 24 August 2013

DIRGAHAYU!




Selamat ulangtahun almamater tercinta. Sukses selalu dan semakin baik kedepannya. Aamiin.
(Tidak apalah ini walaupun terlambat postingannya) :)

Tuesday, 13 August 2013

I Have Decided

Today is Tuesday, 13th August 2013.

Now when I write this one, I still have a chance to be a student one of the best university in Indonesia. It's located in my town, Yogyakarta Province. The chance will expire about 22.00 (not to give attention to this deadline :p). Still several hour. But I'm not going to register. I would resign.

I know that life would not necessarily feel easy. One time, we get a lot of things that according to what we want, so, of course we will feel so happy. For us, the universe works very well. On the other day, all things feels so wrong. When we feel that universe betray us, actually we forget one thing. We forget that wheel of life is always spinning.

And here's I'm on June, July, 2013. Its feel that I'm on bottom of my wheel of life. I failed in several target although some targets well exceeded.

Fortunately, my family, especially my parents that always support and really know how to make me strong, succeed me to keep fight. There are many paths in this world. I know. And I try to believe to my self again for first.

Then, I follow the rule with a lot of hope inside. I must get state university. I must. I 'try' to do my best. But, you know, its feel so exhausting. Don't know why.

Until one day, my wheel of life start increase. I got one of good university in Indonesia. I'm so happy. Really thanks to God, Allah SWT for this one.

Again, my wheel of life increase. I got the other good university in Indonesia. This university the same with my old brother's. And this second one maybe better than the first one. A lot of people say it. (Both in same department). I happy too. But, don't know why, its just happy.

Although several time ask which one would I choose, but parents already know my answer. Just wanna make sure, said them with laugh. I just smile.

Some friends so confident guess that of course I'll take the second one. And some friends think that I'm so strange (and stupid-maybe?). I don't know why they all think such as.

Its not because my parents have paid all tuition for the first one.

There are a lot of reasons.

I have decided.

*



--Its just the same. Between no choice and with many options you do not have time to get confused, we just have to choose the next step, right?--justanotherhome.blogspot.com

13 08 13
THEME BY RUMAH ES