Minggu pertama kuliah, Selasa lalu, akhirnya saya ketemu salah satu dosen baru di semester dua ini. Sebetulnya dalam jadwal ada tiga mata kuliah hari itu, yaitu:
Pendidikan Pancasila
Teori Sastra
Bahasa Belanda
yang kemudian menjadi
Pendidikan Pancasila
Teori Sastra
Bahasa Belanda
Yap, yang dihadiri dosen hanya satu, yaitu mata kuliah Teori Sastra.
Mata kuliah ini diampu oleh dua dosen; yang satu sudah mengajar di semester satu dan yang satunya baru bertemu di semester ini. Untuk pertemuan pertama, keduanya hadir namun yang mengajar adalah dosen baru, dosen satunya hanya mendampingi dari kursi bagian belakang.
Di bagian awal, seperti biasa setelah membicarakan kontrak perkuliahan, buku referensi, dan teman-temannya itu, dosen mulai masuk ke materi kuliah yang diawali dengan pertanyaan apa itu sastra?
Skip, karena saya nggak mau ceramah tentang pengertian sastra. Hehe..
Singkat kata, seperti judul yang saya tulis di atas, saya "dipertemukan kembali" dengan nama-nama yang tentu saja sudah tidak asing lagi di telinga saya. Ya, Durkheim dan Weber.
Slide dengan judul Sastra dan Struktur Sosial mengantarkan saya untuk kembali mengingat dua tokoh itu. Dalam pembahasan bahasa ke dunia sosial dalam slide tersebut tertulis beberapa kalimat yang salah satunya kira-kira begini; bahasa sebagai indikator dari keberadaan realitas sosial yang terlepas dari individu (Durkheim). Saat pembahasan dosen tersebut sampai pada kalimat ini, tiba-tiba beliau bertanya, "Tau kan bedanya Durkheim sama Weber?"